MAN’S SEARCH FOR MEANING-54

Hari itu hari yang buruk. Pada saat parade, pengumuman dibuat untuk menentukan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Melakukan hal yang tidak diperbolehkan dianggap sebagao sabotase dan oleh sebab itu akan mendapat hukuman mati dengan digantung. Diantara yang dianggap sebagai kejahatan adalah memotong bagian selimut (yang digunakan sebagai pembalut kaki) dan pencurian kecil-kecilan. Beberapa hari sebelumnya, tawanan yang kelaparan menerobos ke toko kentang untuk mencuri beberapa pon kentang. Pencurian telah diketahui dan beberapa tawanan dinyatakan sebagai pencuri. Ketika otoritas kamp mengetahuinya, mereka meminta agar pencurinya diserahkan kepada mereka atau seluruh penghuni kamp akan kelaparan selama satu hari. Tentu saja 2500 orang para tawanan memilih untuk berpuasa.
Ketika malam hari saat berpuasa itu, kami berbaring di lantai tanah pondok dalam suasana hati yang sangat buruk. Sangat sedikit yang berbicara, dan kalau pun ada yang berbicara, Selalu bernada marah. Hal itu membuat situasi menjadi lebih buruk, keceriaan telah hilang. Temperamen mencapai titik terendah. Tetapi, sipir senior blok kami adalah seorang bijaksana. Ia memperbincangkan tentang kondisi pikiran kami saat itu. Ia menceritakan tentang banyaknya tawanan yang meninggal akhir-akhir ini, karena sakit atau bunuh diri. Ia juga menyebutkan bahwa alasan untuk kematian mereka adalah tiadanya harapan. Ia juga menyatakan bahwa seharusnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kemungkinan korban berikutnya di kemudian hari. Tampaknya nasehat itu ditujukan pada saya.
Tuhan tahu, saya tidak dalam kondisi yang baik untuk memberikan penjelasan psikologis atau memberitakan khotbah— yang dapat saya tawarkan kepada teman-teman saya untuk memulihkan jiwa mereka. Saya kedinginan, lapar, temperamen tinggi dan lelah,  namun saya harus berupaya dan menggunakan kesempatan unik ini. Peneguhan kini menjadi lebih penting dari sebelumnya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan