MAN’S SEARCH FOR MEANING-62

Ketika kita membicarakan upaya untuk memberikan penguatan mental pada seseorang di kamp, kita mengatakan bahwa ia harus ditunjukkan sesuatu yang mengarah ke masa depan. Ia harus diingatkan bahwa kehidupan di masa depan menunggunya. Bahwa kemanusiaan menunggunya kembali. Namun bagaimana setelah ia bebas? Banyak orang yang mendapati kenyataan bahwa tidak ada yang menunggunya. Betapa celakanya bagi orang di mana orang yang telah memberinya kekuatan selama di kamp ternyata tidak ada lagi, dan betapa celakanya ketika saat-saat yang diimpikan akhirnya tiba, namun ternyata semuanya berbeda dengan apa yang sudah lama dirindukannya. Mungkin ia naik kereta dalam perjalanan ke rumah yang selama di kamp hanya ada dalam benaknya, kemudian ia menekal bel di pintu, yang ia rindukan dalam ribuan impian, hanya untuk menemukan bahwa orang yang seharusnya ia rindukan membukakan pintu baginya tidak ada, dan tidak akan ada lagi.
Di kamp, kami semua mengatakan bahwa bukanlah kebahagiaan duniawi yang menjadi upah dari penderitaan kami. Kami tidak sedang mengharapkan kebahagiaan—bukan itu yang memberikan kami kekuatan dan memberikan makna bagi penderitaan kami, pengorbanan kami, dan kematian kami. Namun, itu bukan berarti bahwa kami lebih menyukai ketidakbahagiaan. Kekecewaan, yang dialami banyak tawanan dan sangat sulit dilalui oleh mereka, bagi psikiater sangat sulit juga mencari jalan keluar membantu mereka menghadapinya. Namun hal itu bukan merupakan suatu pelemahan baginya, sebaliknya, hal itu menghadirkan tantangan baru.
Namun bagi setiap tawanan yang bebas, hari itu datang ketika merenungkan pengalamannya di kamp, ia tidak dapat lagi memahami bagaimana ia dapat menghadapinya. Ketika hari kebebasannya akhirnya tiba, ketika segalanya baginya tampak seperti mimpi indah, namun saat itu tiba juga ketika semua pengalaman di kamp tampak baginya bukan apa-apa selain mimpi buruk.
Mahkota dari semua pengalaman itu, bagi seseorang yang kembali dari kamp, adalah perasaan luar biasa bahwa setelah semua penderitaannya, ia tidak lagi takut pada apa pun—selain Tuhannya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan