MAN’S SEARCH FOR MEANING-61

Hanya dengan cara yang pelan yang dapat menuntun orang-orang kembali pada kebenaran yang lazim, bahwa tidak seorang pun berhak melakukan kejahatan, bahkan bila kejahatan dilakukan terhadap mereka. Kita harus berusaha keras membimbing mereka kembali pada kebenaran itu, atau konsekuensinya akan lebih buruk dari pada kehilangan ribuan tangkai gandum. Saya masih melihat  tawanan yang menggulung lengan bajunya dan mendorong tangan kanannya  menunjuk hidung saya dan berkata, “Mungkin tangan ini harus dipotong jika saya tidak membalasnya dengan darah setelah saya bebas!”  Saya ingin menekankan bahwa orang yang berkata seperti ini bukanlah anggota terburuk. Ia seorang terbaik di kamp dan sesudahnya.
Selain kerusakan moral yang disebabkan oleh pelepasan tekanan mental yang tiba-tiba, ada dua pengalaman mendasar lain yang mengancam kerusakan karakter tawanan yang dibebaskan ketika ia kembali ke kehidupan biasa:kebencian dan kekecewaan.
Kebencian disebabkan oleh beberapa hal ketika ia kembali ke rumah. Ketika saat ia kembali, seseorang menemukan bahwa di banyak tempat ia hanya mendengar ucapan klise, ia cenderung menjadi benci dan menanyakan diri sendiri mengapa ia berada di sana. Ketika ia mendengar kata-kata yang sama hampir di semua tempat— “Kami tidak tahu tentang itu” dan “Kami juga telah menderita,” ia menanyakan diri sendiri, “apakah mereka benar-benar tidak bisa mengatakan yang lebih baik dari pada itu kepada saya?”
Berbeda dengan pengalaman kekecewaan. Bukan tentang orang (yang dengan dangkal dan tidak punya perasaan yang sedemikian menjijikkan membuat seseorang jadi akhirnya merasa merangkak ke dalam lobang dan tidak merasa ada lagi kemanusiaan) melainkan nasib itu sendiri yang tampaknya sangat kejam. Orang yang selama beberapa tahun merasa sudah mencapai batas akhir penderitaan yang mungkin sekarang menemukan bahwa penderitaan tiada batas. Dia masih merasa menderita dan menderita lagi, terus-menerus.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan