MAN’S SEARCH FOR MEANING-60

Suatu saat, beberapa hari sesudah bebas, saya berjalan berkeliling kota, beberapa mil, melewati padang rumput berbunga ke arah pasar yang ada dekat kamp. Burung-burung kecil beterbangan ke angkasa,dan saya bisa mendengar kicauan riang mereka. Tak seorang pun yang terlihat hingga beberapa mil berikutnya. Tidak ada apa pun selain bumi yang luas, langit, nyanyian burung-burung kecil, serta ruang kebebasan. Saya berhenti, memperhatikan sekitar, lalu menatap ke langit dan kemudian bersujud. Pada momen itu, muncul sedikit pengetahuan tentang diri saya sendiri atau tentang dunia—hanya satu kalimat yang ada dalam benak saya— selalu sama: “Saya memanggil Tuhan dari penjara yang sempit dan Dia menjawab saya di ruang yang bebas.”
Sangat lama saya bersujud di sana dan mengucapkan kalimat itu berulang-ulang. Saya tahu bahwa hari itu, pada saat itu, hidup baru saya dimulai. Selangkah demi selangkah saya bertumbuh, hingga saya kembali menjadi manusia.
Jalan yang membawa dari tegangan mental yang tinggi hari-hari terakhir di kamp (dari kegelisahan perang ke mental kedamaian) tentu tidak bebas dari hambatan. Adalah suatu kesalahan bila berpikir bahwa tawanan yang dibebaskan tidak lagi membutuhkan perawatan spiritual. Kita harus mempertimbangkan bahwa seseorang yang berada dalam tekanan mental hebat dalam beberapa lama, secara alami berada dalam bahaya setelah pembebasannya, terlebih bila tekanan dilepas secara tiba-tiba. Bahaya ini (dalam pandangan psikologi higienis) adalah pasangan psikologis tikungan. Seperti kesehatan fisik seorang penyelam yang terancam ketika ia melepaskan tabung udaranya secara tiba-tiba ketika ia berada dalam tekanan udara yang hebat. Orang yang lepas secara tiba-tiba dari tekanan mental yang hebat dapat mengalami kerusakan pada kesehatan moral dan spiritualnya.
Selama fase psikologis ini, observasi menunjukkan bahwa seseorang yang secara alami lebih primitif tidak dapat menghilangkan pengaruh kebrutalan yang dialami selama di kamp. Sekarang, setelah bebas, mereka piker mereka dapat menggunakan kebebasannya secara sewenang-wenang dan kejam. Sesuatu yang berubah pada mereka sekarang adalah pikiran bahwa mereka menjadi penekan alih-alih yang ditekan. Mereka menjadi penganjur, bukan objek, dari kesewenang-wenangan dan ketidakadilan. Mereka menimbang perilaku mereka berdasarkan pengalaman mengerikan yang mereka terima. Hal ini biasanya terungkap dengan jelas melalui peristiwa tak penting. Seorang teman yang berjalan-jalan di lapangan bersama saya menuju kamp dan tiba-tiba ketika kami sampai di lapangan dengan rumput yang muda. Spontan, saya menghindarinya, namun ia menarik lengan saya untuk melewatinya. Saya tergagap, khawatir menginjak rumput yang muda. Ia menjadi kesal, dengan tatapan mata yang marah ia membentak saya, “Kamu jangan katakan!”Belum cukupkah apa yang diambil dari kami? Istri dan anak saya telah dibunuh di kamar gas dan kamu akan melarang saya menginjak beberapa tangkai bibit gandum?
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan