MAN’S SEARCH FOR MEANING-59

Kami tiba di lapangan rumput yang penuh dengan bunga. Kami menyaksikan dan meyakini bahwa mereka ada di sana, namun kami tidak meresapinya. Percikan api kebahagiaan datang ketika kami melihat seekor ayam jantan dengan bulu warna-warni. Namun hal itu tetap hanya sebagai percikan, kami tidak dapat merasakan dunia.
Pagi-pagi ketika kami bertemu lagi di pondok, seseorang menanyakan kepada yang lainnya dengan berbisik, “Katakan padaku, apakah kamu bahagia hari ini?”
Kemudian yang lainnya menjawab, dengan malu-malu karena tidak tahu bahwa perasaan kami juga sama, “Sejujurnya, tidak!” Kami sesungguhnya telah kehilangan perasaan bahagia dan belajar kembali tentang itu pelan-pelan.
Secara psikologis, apa yang terjadi pada tawanan yang menjadi bebas dapat disebut sebagai “depersonalisasi”. Segala sesuatu tampak tidak nyata, tidak mungkin, seperti dalam mimpi. Kami tidak percaya bahwa segala sesuatu itu benar. Betapa seringnya kami dulu dikecewakan oleh mimpi! Kami memimpikan datangnya hari pembebasan, yang membuat kami benar-benar bebas, pulang ke rumah, bersuka cita dengan teman, memeluk istri tercinta, duduk mengelilingi meja dan bercerita tentang masa lalu—bahkan tentang bagaimana kami dulu memandang hari pembebasan dalam impian kami. Kemudian bunyi peluit terdengar di telinga kami, pertanda kami harus bangun, dan impian kami tentang kebebasan telah menjadi kenyataan. Sekarang impian kami benar-benar menjadi kenyataan, namun sungguhkah kami mempercayainya?
Tubuh memiliki lebih sedikit hambatan dari pada pikiran. Tubuh memanfaatkan kebebasan bahkan sejak awal. Tubuh makan menjadi rakus, setiap jam dan hari, bahkan tengah malam. Sangat mengherankan kemampuan tubuh untuk makan. Ketika seorang mantan tawanan diundang makan oleh tetangga, ia akan makan dan makan sebanyak-banyaknya kemudian minum kopi, hingga susah untuk berbicara. Kemudian ia mulai bercerita, biasanya beberapa jam. Tekanan yang ada dalam pikirannya selama bebera tahun akhirnya lepas. Mendengar ia bercerita, seseorang akan mendapat kesan bahwa ia terpaksa bercerita, bahwa keinginannya untuk berbicara tidak tertahankan. Saya mengenal beberapa orang yang berada dalam tekanan berat hanya untuk waktu singkat (sebagai contoh yang berada dalam penyelidikan oleh Gestapo) menunjukkan reaksi yang sama. Hari-hari berlalu, hingga bukan hanya lidah yang kelu, namun segala sesuatu yang ada pada diri. Kemudian, perasaan tiba-tiba memutuskan  belenggu aneh yang membatasinya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan