MAN’S SEARCH FOR MEANING-58

Dari semua itu, kita belajar bahwa hanya ada dua ras manusia, manusia baik dan manusia jahat. Keduanya dapat ditemukan di kelompok manapun. Mereka melakukan penetrasi ke semua strata sosial. Tidak satu pun kelompok yang hanya berisikan orang baik atau hanya orang jahat. Dalam hal ini, tidak ada kelompok dengan ras yang murni. Ada kemungkinan menemukan orang baik dari antara pengawas kamp.
Hidup di kamp konsentrasi menyibak jiwa manusia dan menyingkap kedalamannya. Apakah mengejutkan bila di kedalaman itu kita masih menemukan kualitas manusia yang secara alami merupakan campuran antara kebaikan dan kejahatan? Jurang memisahkan kebaikan dan kejahatan, yang melampaui keberadaan manusia, menuju kedalaman terendah dan muncul di dasar jurang yang diungkap oleh kamp konsentrasi.
Dan sekarang, pada bagian terakhir dari psikologi kamp konsentrasi—psikologi para tawanan yang sudah dilepaskan. Untuk menjelaskan pengalaman pembebasan, yang secara alami seharusnya personal, kita harus mengambil perlakuan dari narasi yang menceritakan tentang suatu pagi ketika bendera putih dikibarkan di atas gerbang kamp setelah hari-hari bertegangan tinggi. Keadaan batin yang gelisah ini diikuti oleh relaksasi total. Namun hal itu akan menjadi salah jika berpikir bahwa kami akan menjadi sinting dengan suka cita. Apa yang kemudian terjadi?
Dengan langkah gontai, kami berjalan menyeret diri kami sendiri menuju gerbang. Kami memandang sekitar dan saling melirik satu sama lain dengan penuh tanda tanya. Kemudian kami memberanikan diri untuk berjalan keluar kamp. Saat ini tidak ada lagi aturan yang membuat kami bisa dibentak, juga tidak ada kebutuhan untuk menunduk untuk mengelakkan pukulan atau tendangan. Oh tidak! Sekarang pengawas justru menawarkan kami rokok. Kami kesulitan mengenali mereka awalnya karena mereka mengganti pakaian dengan pakaian sipil. Kami berjalan dengan pelan-pelan menjauhi kamp. Segera kaki kami menjadi sakit dan terancam keseleo. Namun, kami tetap berjalan tertatih-tatih, didorong oleh keinginan untuk melihat sekeliling kamp dengan mata sendiri sebagai orang bebas. “Bebas”—kami mengulanginya untuk diri kami sendiri, dan baru saja kami tidak memilikinya. Kami telah mengucapkan kata ini berulang-ulang sepanjang tahun kami memimpikannya, hingga ia kehilangan maknanya. Realitasnya tidak masuk ke dalam kesadaran kami. Kami tidak merangkul fakta bahwa kebebasan sudah menjadi milik kami.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan