MAN’S SEARCH FOR MEANING-57

Pertama, di antara para pengawal ada beberapa yang memang sadis— dalam arti klinis yang sesungguhnya.
Kedua, mereka yang sadis ini selalu diseleksi ketika ada kebutuhan pengawalan beberapa kelompok.
Kami merasa senang ketika diberikan ijin untuk menghangatkan badan setelah bekerja sekitar dua jam dalam cuaca dingin. Kami duduk di depan tungku yang sudah diberi beberapa potong ranting dan dahan kayu. Namun, ada saja pengawal yang tidak suka dengan situasi ini, bahkan merasa senang jika kami tidak merasa nyaman. Betapa hal itu terlihat melalui mimik mereka yang tidak hanya melarang kami duduk di sana, melainkan juga mematikan  api dan melemparkan ranting dan dahan pohon itu. Ketika SS merasa tidak senang pada seseorang, selalu ada orang khusus yang mereka kirim untuk memberikan siksaan sadis kepada orang yang dibenci itu.
Ketiga, perasaan para pengawal sudah menjadi tumpul sebagai akibat beberapa tahun, dalam dosis yang semakin meningkat, menyaksikan perlakuan-perlakuan sadis di kamp. Hal ini akan mengeraskan hati mereka, paling tidak untuk tidak bertindak aktif dalam perlakuan brutal. Namun, mereka tidak mau mencegah yang lainnya untuk melakukan hal itu. Keempat, harus dicatat bahwa bahkan di antara pengawal itu, ada beberapa yang menaruh kasihan kepada kami. Sekadar contoh, saya sebutkan komandan kamp pada saat kami bebas. Belakangan diketahui—sebelumnya hanya dokter kamp dan tawanan itu sendiri yang mengetahuinya—bahwa orang ini telah menghabiskan banyak uang dari kantongnya sendiri untuk membelikan obat bagi para tawanan dari pasar terdekat. Namun, sipir senior kamp, seorang tawanan juga, lebih kejam dari pengawal SS yang lain. Ia memukul tawanan lain dalam setiap kesempatan yang ada, sementara komandan kamp, sepengetahuan saya, tidak pernah menggunakan tangan atau kakinya untuk memukul seorang pun dari kami. Hal itu melahirkan pengetahuan unik bahwa seorang manusia apakah ia seorang tawanan atau seorang komandan kamp tidak bisa menjadi ukuran bagi karakternya. Kebaikan manusia dapat ditemukan di setiap kelompok, bahkan dalam suatu kelompok di mana penghukuman dapat dilakukan dengan sangat mudah. Ikatan dalam suatu kelompok adalah tumpang tindih, sehingga kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa orang-orang ini adalah malaikat dan orang-orang itu adalah setan. Tentu, adalah suatu hal yang dapat dipertimbangkan bila seorang pengawal atau pengawas bersikap baik kepada tawanan terlepas dari pengaruh kamp, dan pada sisi yang lain, Kehinaan seorang tawanan yang memperlakukan temannya sendiri secara buruk adalah pengecualian yang nista. Jelas bahwa para tawanan menemukan kurangnya karakter dalam beberapa orang tertentu yang menjijikkan, sementara mereka secara mendalam digerakkan oleh  kebaikan kecil yang diterima dari para pengawal. Saya ingat suatu saat ketika seorang pengawal secara diam-diam memberikan sepotong roti kepada saya, yang saya tahu bahwa itu pasti ia sisihkan dari sarapan paginya. Ada sesuatu yang lebih dari makna sepotong roti, yang pada saat itu menggerakkan saya untuk meneteskan air mata. Sesuatu pada manusia yang juga diberikan oleh orang itu kepada saya, kata dan tatapan yang menyertai pemberiannya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan