MAN’S SEARCH FOR MEANING-56

Kemudian saya membicarakan berbagai kesempatan untuk memberikan makna kepada hidup. Saya ceritakan teman saya (yang berbaring tak bisa bergerak, meskipun kadang terdengar mendesah) tentang kehidupan manusia, dalam berbagai lingkungan, tidak pernah berhenti untuk memiliki makna.dan bahwa makna hidup yang terbatas meliputi penderitaan dan maut, kemelaratan dan kematian. Saya meminta kepada makhluk kecil yang mendengar saya dengan penuh perhatian dalam kegelapan pondok untuk melalui keseriusan hidup kami. Mereka tidak boleh kehilangan harapan melainkan harus tetap menjaga keberaniannya dengan keyakinan bahwa hilangnya pengharapan dalam perjuangan kami tidak berkurang dari kehormatan dan maknanya. Saya katakan bahwa seseorang menatap kita dalam masa-masa sulit; teman, istri, seseorang yang hidup atau mati, atau Tuhan, dan ia tidak berharap mereka akan kecewa. Ia berharap bertemu kita yang menderita dengan bangga, tidak menyedihkan, mengetahui bagaimana cara mati yang sejati.
Akhirnya saya membicarakan tentang pengorbanan kami, yang memiliki makna dalam segala hal. Adalah sifat alamiah dari pengorbanan, bahwa ia tidak terlalu dipedulikan dalam dunia yang normal, dunia yang mengenal sukses materi. Namun dalam kenyataan, pengorbanan yang kami lakukan memiliki makna. Bagi kami yang memiliki keyakinan relijius, saya katakan sejujurnya, tidak akan mengalami kesulitan untuk memahaminya.Saya ceritakan kepada mereka tentang seorang teman, yang sejak tiba di sini berikrar kepada surga bahwa penderitaan dan kematiannya akan menyelamatkan manusia yang dicintainya dari akhir yang menyakitkan. Baginya, penderitaan dan kematian adalah penuh makna. Ia menyadari penderitaan sebagai makna terdalam. Dia tidak ingin mati sia-sia, dan tak satupun di antara kita menginginkan demikian.
Tujuan dari ucapan saya adalah untuk menemukan makna sejati dalam hidup kami saat itu juga, di pondok yang secara praktis telah kehilangan pengharapan. Saya melihat bahwa upaya saya berhasil. Ketika lampu listrik kembali menyala, saya melihat sosok menyedihkan teman saya berjalan pincang ke arah saya dengan air mata yang menetes dipipinya, untuk mengucapkan terima kasih kepada saya. Namun saya harus mengakui, bahwa saya hanya memiliki kesempatan yang sangat langka memiliki kekuatan batin untuk melakukan kontak dengan pendamping saya dan kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan hal yang sama.
Kami sekarang memasuki tahap ketiga reaksi mental para tawanan: psikologi para tawanan setelah pembebasan. Namun sebelumnya, kami harus mempertimbangkan suatu pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh para psikolog, khususnya bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hal itu: Apa yang dapat anda ceritakan tentang upaya psikologis terhadap pengawal kamp? Bagaimana mungkin bagi seorang manusia dengan daging dan darahnya memperlakukan orang lain seperti yang banyak diceritakan tawanan bagaimana mereka diperlakukan? Setelah seseorang mendengar laporan-laporan ini dan menjadi percaya bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi, mereka akan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi. Menjawab pertanyaan ini tanpa menjelajah ke seluruh detail, beberapa hal berikut akan ditunjukkan:
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan