MAN’S SEARCH FOR MEANING-55

Lalu saya mulai dengan hal-hal sepele untuk mulai menyamankan mereka.Saya katakan bahwa bahkan di Eropa dalam enam musim dingin terakhir selama Perang Dunia ke dua, situasi kita bukanlah yang terburuk seperti yang kita pikirkan. Saya katakan bahwa masing-masing  kami harus menanyakan diri sendiri, hal apa yang tidak tergantikan di mana ia bersedia menderita untuknya. Saya berspekulasi bahwa bagi sebagian besar mereka, hal itu cukup banyak. Barangsiapa yang masih hidup, harus memiliki alasan bagi pengharapan. Kesehatan, keluarga, kebahagiaan, kemampuan professional, nasib, kedudukan sosial, semua hal itu dapat diraih lagi atau dikembalikan. Oleh sebab itu, kita harus tetap tegar. Apa yang telah kita lalui, akan menjadi asset bagi masa depan kita. Dan saya mengutip dari Nietzsche: “Was mich nicht umbringt, macht mich starker” (hal itu tidak akan membunuhku, malah membuatku makin kuat.)
Kemudian saya berbicara tentang masa depan. Saya katakan bahwa masa depan mungkin tampak tak berpengharapan. Saya sepakat bahwa setiap kami akan menduga betapa kecilnya kemungkinan kami untuk tetap hidup. Saya katakana kepada mereka bahwa meskipun tidak ada epidemi tipus di kamp, saya perkirakan bahwa peluang saya adalah satu banding dua puluh. Namun, saya katakan kepada mereka, meskipun demikian situasinya, saya tidak ada niat untuk menyerah dan putus asa. Karena tidak seorang pun tahu apa yang akan dibawa oleh masa depan, bahkan beberapa saat ke depan. Bahkan seandainya kita tidak mengharapkan adanya peristiwa militer yang sensasional dalam beberapa hari ke depan, siapa yang tahu lebih baik dari pada kita, dengan pengalaman kita di kamp, betapa besarnya peluang yang mungkin akan terbuka secara tiba-tiba, paling tidak bagi individu. Sebagai contoh, seseorang mungkin digabungkan secara tak terduga dengan kelompok dengan situasi kerja yang baik, dalam hal ini sesuatu telah membentuk keberuntungan sang tawanan.
Saya tidak hanya membicarakan tentang masa depan dengan selubung yang membungkusnya. Saya juga membicarakan tentang masa lalu, seluruh kebahagiaannya, cahayanya yang menyinari bahkan kegelapan saat ini. Lagi-lagi saya mengutip sebuah syair untuk menghindari kesan bahwa saya berkotbah: “Was du erlebst, kann keine Macht der Welt Dir Rauben.” (Apa yang telah anda alami, tak ada satu kekuatan apa pun di dunia yang dapat mengambilnya darimu.)Bukan hanya pengalaman kami, namun semua hal yang kami telah lakukan, semua pemikiran besar yang dapat kami buat, dan semua penderitaan kami, semua itu tidak akan hilang, sekalipun ia berlalu; kami telah membawanya ke dalam hidup.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan