MAN’S SEARCH FOR MEANING-53

Permulaan baik dari suatu psikoterapi atau psikohigienis  bisa terjadi bila mereka semua yang ada di kamp, baik individual maupun kolektif berada dalam situasi alamiah. Pendekatan psikoterapi individual biasanya adalah semacam prosedur penyelamatan hidup. Upaya ini mengutamakan pencegahan orang melakukan bunuh diri. Aturan di kamp melarang keras upaya melarang orang melakukan bunuh diri. Misalnya, dilarang keras menyelamatkan orang yang gantung diri. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mencegah orang memiliki niat bunuh diri.
Saya ingat tentang dua kasus keinginan bunuh diri yang nyaris sama. Kedua orang itu mengatakan niat bunuh diri terjadi karena mereka tidak lagi memiliki pengharapan dalam hidup. Dalam kedua kasus, ada suatu pertanyaan yang dapat membawa mereka untuk meyakini bahwa hidup masih memiliki pengharapan dari mereka, bahwa masa depan mengharapkan mereka. Faktanya, kita temukan bagi yang satunya bahwa ia memiliki seorang anak yang disayanginya dan yang menunggunya di luar negeri. Bagi yang lainnya, hal itu adalah sesuatu, bukan orang. Orang ini adalah seorang ilmuwan. Sebelumnya ia menulis sebuah buku dan hampir selesai. Karyanya itu tidak dapat dilanjutkan oleh siapa pun, sebagaimana yang satunya tidak dapat digantikan oleh siapa pun dalam hubungan kasih saying dengan anaknya.
Keunikan dan personalitas yang membedakan setiap individu dan memberikan makna bagi eksistensinya menjadi tantangan bagi karya kreatif sebanyak yang terjadi pada cinta manusia. Bila ketidakmungkinan menggantikan manusia diyakini, hal itu melahirkan tanggung jawab dalam eksistensinya yang semakin besar dan berkelanjutan. Seseorang yang menjadi sadar akan tanggung jawab yang dipikulnya terhadap seseorang yang dengan penuh kasih sayang menunggunya atau terhadap karya yang harus diselesaikan, tidak akan bisa membuat hidupnya sia-sia. Dia memahami “mengapa” tentang eksistensinya, dan akan bersedia memikul semua “bagaimana”.
Kesempatan untuk terapi kolektif dibatasi di dalam kamp. Contoh yang baik lebih efektif dibanding kata-kata apapun. Seorang sipir senior blok yang tidak memihak pada otoritas yang ada, dengan keadilan dan sikap beraninya, menyampaikan ribuan kesempatan untuk menjangkau pengaruh moral di bawah kekuasaannya. Pengaruh langsung dari perilaku jauh lebih efektif dari pada kata-kata. Tetapi, saat itu, kata-kata juga berpengaruh, bila keterbukaan mental terus-menerus dipengaruhi lingkungan luar. Saya ingat suatu insiden ketika ada kesempatan untuk melakukan psikoterapi bagi semua penghuni pondok, akibat intensifikasi keterbukaan mereka yang disebabkan oleh situasi eksternal tertentu.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan