MAN SEARCH FOR MEANING

Mudah bagi orang lain untuk mendapatkan persepsi yang keliru tentang kehidupan di kamp konsentrasi. Konsepsi yang berbaur dengan sentimen dan rasa kasihan.Sangat sedikit yang memahami tentang perjuangan keras demi eksistensi yang terjadi di antara para tawanan. Hal itu adalah perjuangan yang berlangsung terus-menerus demi makanan sehari-hari dan demi kehidupan itu sendiri, demi kepentingan seseorang atau demi seorang sahabat baik.
Mari kita ambil contoh kasus transport ketika petugas mengumumkan pemindahan beberapa orang tawanan ke kamp yang lain. Sangat wajar bila pengumuman itu menimbulkan kecurigaan bahwa tujuan akhirnya adalah ruang gas. Tawanan yang sakit atau yang lemah, yang tidak mampu bekerja diseleksi dan dikirim ke pusat kamp yang dilengkapi dengan kamar gas dan krematorium. Proses seleksi adalah sinyal bagi terjadinya persaingan bebas antara semua tawanan, antara kelompok yang satu dengan kelompok lain. Semua hal itu terjadi ketika nama seseorang atau nama sahabatnya ditandai dalam daftar korban, meskipun setiap orang tahu bahwa setiap orang yang menyelamatkan korban pasti ditemukan.
Tawanan dalam jumlah terbatas diangkut dengan masing-masing transport. Tidak menjadi soal ketika mereka dianggap bukan apa-apa selain angka. Ketika mereka memasuki kamp (paling tidak ini terjadi di kamp Auschzwitz) semua dokumen tentang mereka serta milik mereka dirampas. Dengan demikian, setiap tawanan memiliki kesempatan untuk mengklaim nama atau profesi samaran, dan dengan alasan tertentu beberapa orang melakukannya. Otoritas hanya penting dalam nomor tawanan. Nomor-nomor itu ditatokan di kulit tawanan atau dijahitkan pada tempat tertentu di jaket atau celana mereka. Pengawas yang ingin menyiksa tawanan hanya perlu melirik nomor tawanan (dan betapa menakutkannya lirikan itu) ia tidak perlu menanyakan namanya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan