MAN SEARCH FOR MEANING

Ilusi dari kebanyakan kami yang masih tersisa satu-persatu dilucuti. Hampir tak terduga, kebanyakan dari kami mengatasinya dengan rasa humor yang muram. Kami tahu bahwa tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari kami kecuali ketelenjangan kami yang konyol. Ketika shower dinyalakan, kami berupaya keras untuk membuat lelucon, baik tentang diri sendiri maupun tentang yang lainnya. Akhirnya, sebenarnya tidak ada air mengalir dari pancuran.
Lepas dari rasa humor yang mengerikan, perasaan baru menjerat kami:rasa penasaran. Saya pernah mengalami rasa penasaran sebelumnya, sebagai reaksi fundamental terhadap situasi yang cukup aneh. Ketika suatu saat saya mengalami situasi yang berbahaya pada saat memanjat tebing: penasaran, penasaran terhadap sesuatu apa yang akan terjadi apakah patah tulang atau cedera atau entah apa lainnya.
Penasaran yang dingin mencekam bahkan di Auschwitz, kadang mencekam pikiran dan sekitarnya, yang disebut dengan objektivitas.Pada saat itu, seseorang menanamkan pikiran itu sebagai proteksi diri. Kami merasa gelisah mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya, dan apa yang menjadi konsekuensinya. Sebagai contoh, ketika kami berdiri di udara terbuka dalam kedinginan musim gugur, telanjang polos, dan masih basah setelah selesai mandi. Beberapa hari berikutnya, rasa penasaran kami berkembang menjadi kejutan, kejutan   bahwa kami tidak merasa dingin.
Ada banyak kejutan yang sama bagi pendatang baru. Orang-orang medis di antara kami belajar dari hal itu: “Buku teks ternyata berbohong!” Di mana-mana dituliskan bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpa tidur beberapa  hari. Benar-benar salah.Saya meyakini bahwa ada beberapa hal yang membuat kita tidak bisa melakukan sesuatu: Saya tidak bisa tidur karena hal ini, saya tidak bisa tidur karena hal itu. Malam pertama kami di Auschwitz kami tidur di tempat tidur bertingkat. Setiap tingkat (yang berukuran sekitar enam setengah kaki) ada Sembilan orang yang tertidur tanpa alas. Sembilan orang harus berbagi dua buah selimut. Kami tentu saja hanya bisa berbaring dengan ukuran tubuh masing-masing, berdesakan dan meringkuk satu sama lain membawa keuntungan untuk mengurangi rasa dingin. Meskipun meletakkan sepatu di atas ranjang dilarang, beberapa orang melakukannya secara diam-diam untuk digunakan sebagai bantal. Meskipun kenyataannya mereka jadinya berlumur lumpur. Jika tidak, kepala harus ditaruh di lekukan lengan yang terasa sakit. Akhirnya, rasa kantuk membuat tubuh tertidur, dan sejenak semua rasa sakit terlupakan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan