MAN SEARCH FOR MEANING

Ya, dia tampak mulai memahami.Sebuah senyuman terpancar di wajahnya, pertama merasa iba, kemudian geli, kemudian mengejek, menghina, hingga kemudian ia meriakkan satu kata sebagai jawaban terhadap permintaan saya. Satu kata yang pernah terdengar dalam percakapan di antara sesama tawanan. “Sialan!” Pada momen itu saya melihat kebenaran polos yang menandai titik puncak fase pertama dalam reaksi psikologis saya: Saya melenyapkan kehidupan saya sebelumnya.
Tiba-tiba terjadi kehebohan di antara kami, seseorang yang tampak pucat, dengan wajah ketakutan, dan tak berdaya.Lagi-lagi kami mendengar suara bentakan yang parau. Kami disuruh menuju serambi terdekat.Di sana kami dikumpulkan di sekitar petugas SS yang menunggu hingga semua kami tiba. Kemudian ia berkata,”Saya memberi waktu dua menit, dan saya akan menghitunganya dengan jam saya sendiri. Dalam dua menit, semuanya harus telanjang dan semua barang-barang yang ada harus dilepas di atas lantai di mana Anda berdiri. Kalian tidak boleh mengenakan apa-apa kecuali sepatu, ikat pinggang, dan selempang, dan mungkin ikatan. Saya akan menghitungnya sekarang.”
Tanpa berpikir panjang, semuanya menanggalkan pakaian. Karena waktunya sangat pendek, mereka menjadi sangat gugup dan kikuk dengan pakaian dalamnya, ikat pinggang, dan tali sepatu. Kami mendengar suara cambukan pertama. Tubuh yang telanjang dilecut dengan tali pinggang.
Kemudian kami digiring ke suatu ruangan untuk dicukur. Bukan hanya kepala yang digunduli, melainkan seluruh rambut di tubuh  dihabisi. Kemudian di shower di mana kami dibariskan kembali. Kami dengan susah payah untuk mengenali sesama kami. Namun, yang sedikit melegakan, beberapa orang mencatat bahwa air senyatanya dialirkan dari pancuran.
Ketika kami menunggu mandi, ketelanjangan membawa kami ke situasi rumah sendiri: Kami sekarang tidak punya apa-apa selain tubuh telanjang, bahkan tanpa rambut, hanya itu yang kami miliki, yang secara harfiah adalah eksistensi telanjang kami. Apa lagi yang tersisa dari kami sebagai material yang terhubung dengan kehidupan sebelumnya? Bagi saya, hanya kaca mata dan ikat pinggang, yang terakhir sudah saya tukar dengan sepotong roti. Ada sedikit tambahan bagi para pemilik gulungan. Malam ketika pimpinan senior tawanan menyambut kami di pondok, dengan ucapan dan kata-kata yang memberi rasa hormat bahwa dia akan bergantung secara personal, “dari balok itu”-ia menunjuknya- beberapa orang yang menyematkan uang atau batu permata di ikatan mereka. Dengan bangga ia menjelaskan bahwa peraturan tawanan berada di tangannya sebagai tawanan senior. Di mana kami meletakkan sepatu bukanlah hal mudah. Meskipun kami dianjurkan untuk menjaganya, berikutnya kami harus menyerahkan juga sehingga sepasang sepatu yang seharusnya akan tertukar dengan yang tidak cocok. Dalam kesulitan nyata, ketika para tawanan telah mengikuti anjuran tawanan senior yang bermaksud baik (diberikan di beranda) dan memendekkan sepatu bot dengan memotong ujungnya, dan kemudian mengolesi sabun pada bagian yang dipotong untuk menyembunyikan sabotase. SS tampaknya menunggu saja. Semua dugaan kejahatan ini harus diselesaikan di ruang kecil yang berdampingan.Beberapa saat kami masih mendengar bunyi siksaan dan erangan orang yang disiksa. Kini berlangsung hanya sebentar.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan