MAN SEARCH FOR MEANING

Namun, saya sedang menceritakan sesuatu di luar maksud mereka. Dalam sudut pandang psikologi, kami telah menempuh jalan panjang sejak fajar menyingsing di stasiun hingga sepanjang malam pertama kami di kamp.
Dengan digiring oleh pengawal SS yang dilengkapi senapan, kami berlari dari stasiun melewati pagar kawat berduri yang dialiri listrik, melewati kamp, menuju stasiun pembersihan, untuk kami yang melewati seleksi pertama, ini adalah bak mandi yang sesungguhnya.
Sekali lagi, ilusi penundaan kami mendapatkan konfirmasi. SS tampak mempesona, yang kemudian kami temukan alasannya. Mereka cukup baik kepada kami sepanjang mereka melihat jam di pergelangan tangan kami dan mereka berusaha mendapatkannya dengan cara membujuk. Ketika kami tidak mau memberikan apa yang kami punya, mungkin suatu saat nanti sikap mereka akan berubah.
Kami menunggu pada suatu ruangan yang tampaknya merupakan beranda sebuah ruangan disinfektan. SS muncul dan membentangkan selimut sebagai tempat di mana kami harus melepaskan semua yang kami punya, semua jam tangan kami, dan perhiasan-perhiasan kami. Di antara kami masih ada saja tawanan yang bersikap lugu yang mengatakan kepada seseorang yang bertugas sebagai pembantu agar cincin kawin, medali, dan perhiasan tidak diambil. Tak seorang pun yang mengira bahwa semuanya akan diambil oleh mereka.
Dengan percaya diri, saya mencoba mendekati seorang tawanan tua. Sambil mendekatinya dengan hati-hati, saya menunjuk gulungan kertas di saku dalam jaket saya sambil berkata, “Lihat, ini adalah manuskrip sebuah buku. Saya tahu apa yang akan Anda katakana, bahwa saya akan sangat bersyukur jika bisa melarikan diri, bahwa hanya itulah yang dapat saya dambakan. Namun saya tidak bisa melakukannya. Saya harus menjaga manuskrip ini. Ini adalah karya sepanjang hidup saya. Anda mengerti?”
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan