MAN SEARCH FOR MEANING-51

Penelitian dan kesimpulan yang dilakukan oleh dokter kepala di kamp konsentrasi terhadap kasus ini bersesuaian dengan yang saya buat. Tingkat kematian antara minggu terakhir 1944 dengan Januari 1945 meningkat di kamp melampaui pengalaman sebelumnya. Menurutnya, penjelasan tentang peningkatan jumlah kematian itu bukan akibat kerja keras atau kurangnya asupan makanan atau cuaca yang buruk atau wabah baru. Penyebabnya adalah karena kebanyakan tawanan memiliki harapan naïf berada di rumah pada hari Natal. Ketika waktunya semakin dekat dan tidak ada kabar menggembirakan, para tawanan kehilangan pengharapan dan sangat kecewa. Rasa kecewa itu menurunkan ketahanan tubuh mereka secara drastis, dan kebanyakan mereka akhirnya meninggal.
Kita sudah bahas bahwa upaya  memulihkan kekuatan batin para tawanan kamp konsentrasi  sebaiknya dilakukan dengan langkah pertama menunjukkan tujuan masa depan. Kata-kata Nietzsche,” Barang siapa yang memiliki ‘mengapa’ terhadap kehidupan akan bertahan terhadap ‘bagaimana’,” merupakan motto yang membimbing upaya psikoterapi terhadap para tawanan. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk itu, ia harus memberikan mereka pertanyaan mengapa—suatu tujuan—untuk hidup mereka. Dengan maksud untuk memberikan kekuatan kepada mereka menghadapi kengerian bagaimana dalam eksistensi mereka. Celakalah mereka yang melihat tidak ada lagi rasa dalam hidupnya, tidak ada arah, tidak ada tujuan, dan kemudian tidak ada hal yang dapat dipegang. Dia akan segera musnah. Jenis argumen mereka yang menolak semua upaya pemulihan, “Tidak ada lagi yang saya harapkan dalam hidup ini.” Jawaban seperti apa yang dapat diberikan untuk hal itu?
Apa yang sangat dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam sikap terhadap hidup. Kita harus menyelidiki diri kita sendiri, dan selanjutnya kita harus mendidik orang yang putus asa, bahwa tidaklah penting apa yang Anda harapkan dari kehidupan, melainkan apa yang diharapkan kehidupan dari Anda. Kita harus berhenti bertanya apa yang diharapkan kehidupan dari kita, melainkan memikirkan bahwa diri kita sendiri ditanya oleh kehidupan—setiap hari, setiap jam. Jawaban kita, bukan dalam ujaran dan meditasi, melainkan dalam tindakan yang benar dan perilaku yang benar. Hidup sejatinya bermakna memikul tanggung jawab untuk menemukan jawaban yang benar terhadap masalah ini dan menunaikan tugas terhadapnya secara terus-menerus bagi setiap individu.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan