MAN SEARCH FOR MEANING

Seribu lima ratus tawanan dikurung dalam sebuah bangunan berbentuk gudang yang mestinya hanya mampu menampung sekitar dua ratus orang. Kami merasa kedinginan dan lapar dalam ruang di mana tak ada ruang kosong bahkan untuk jongkok dan meluruskan kaki atau berbaring. Jatah makanan seharian kami hanya sepotong roti dengan berat sekitar lima ons.
Saya dengar percakapan seorang tawanan senior sebagai pimpinan kelompok ini yang tampaknya tawar-menawar dengan seorang tentang sebuah pin yang terbuat dari platinum dan berlian. Sebagian besar keuntungan digunakan untuk membeli schnapps. Saya tidak lagi ingat berapa ribu Mark yang diperlukan untuk membeli sebotol Schnapps, tapi saya tahu bahwa ia dibutuhkan oleh tawanan dengan masa tahanan yang panjang. Dalam kondisi demikian, siapa yang mau peduli jika mereka melarikan diri ke narkoba? Di antara tawanan, ada kelompok yang mendapat jatah Schnapps dalam jumlah hampir tak terbatas yang disuplai oleh SS: Mereka adalah tawanan yang bekerja di ruang gas dan krematorium, dan siapa yang memahami bahwa suatu hari nanti mereka akan berubah status dan menjadi korban.
Hampir setiap orang yang ada dalam transport, mengalami ilusi penundaan, bahwa segala sesuatu akan baik-baik saja. Kami tidak meyakini makna di balik skenario yang harus diikuti sekarang. Kami diperintahkan untuk meninggalkan bawaan di kereta api, kemudian membentuk dua kelompok, wanita dan laki-laki, untuk keperluan dokumentasi melalui seorang petugas SS. Cukup mengejutkan, saya memiliki keberanian untuk menyembunyikan tas sandang saya di balik jaket saya. Seorang demi seorang dari kelompok kami diperiksa SS. Saya yakin akan sangat berbahaya bila petugas menemukan tas yang saya sembunyikan. Pengalaman sebelumnya, bila itu terjadi, paling tidak mereka akan menendang saya hingga jatuh.
Secara naluri, saya berusaha tegak ketika mendekati petugas agar ia tidak memperhatikan apa yang saya sembunyikan. Kemudian kami berhadapan muka. Ia seorang laki-laki yang tinggi dengan tubuh yang langsing dan kelihatan tegap dengan pakaian seragamnya yang bersih. Bertolak belakang dengan kami, yang setelah melakukan perjalanan jauh, kelihatan kotor dan berantakan. Ia tampaknya cukup ceroboh. Ia menopang siku kanannya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya terangkat dan dengan telunjuknya ia menunjuk ke kiri kanan. Tidak ada dari kami yang mungkin memaknai arah jari orang itu, yang menunjuk ke kiri dan ke kanan, kebanyakan ke kiri.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan