MAN SEARCH FOR MEANING-49

Saya ingat pengalaman pribadi. Saya hampir menangis karena kesakitan (kaki saya sangat sakit akibat mengenakan sepatu yang robek), saya tertatih-tatih sepanjang beberapa kilometer dalam perjalanan dari kamp ke tempat kerja. Sangat dingin, angin dingin menghantam kami. Saya memikirkan akhir dari masalah kecil hidup kami yang menyedihkan. Apa yang akan kami makan malam ini? Seandainya sepotong sosis diberikan sebagai tambahan jatah, apakah saya akan menukarnya dengan sepotong roti? Apakah saya akan menjual rokok terakhir saya yang tersisa dari bonus yang saya terima dua minggu lalu, untuk semangkok sup? Bagaimana saya mendapatkan sebatang kawat yang bisa saya buat menjadi tali sepatu saya? Apakah saya bisa sampai di tempat kerja dengan kelompok saya seperti biasa atau saya akan bekerja dengan kelompok lain dengan pengawas yang brutal? Apa yang dapat saya lakukan agar mendapat perhatian yang baik dari Capo, yang mungkin dapat membantu saya untuk mendapatkan pekerjaan di kamp dan bukannya harus berjalan sangat jauh seperti ini setiap hari?
Saya menjadi jijik dengan keadaan yang mendorong saya, setiap jam dan setiap hari, memikirkan hal-hal sepele. Saya memaksa pikiran saya untuk memikirkan hal lain. Tiba-tiba, saya melihat diri saya berada di panggung yang gemerlap, hangat, dalam ruang kuliah yang menyenangkan. Di depan saya, pendengar yang penuh perhatian duduk dengan nyaman di kursi empuk. Saya memberikan kuliah tentang psikologi kamp konsentrasi! Semua hal itu menekan pikiran saya waktu itu untuk menjadi objektif, memandang dan menyatakan dari sudut pandang ilmiah. Dengan cara ini, saya berhasil bangkit dari situasi, dari penderitaan saat itu, dan saya menerimanya seolah-olah hal itu sudah terjadi di masa lampau. Saya dan masalah saya sendiri menjadi objek penelitian psikologi yang saya lakukan sendiri. Apa yang dikatakan oleh Spinoza dalam etikanya? “Affectus, qui passio est, desinit esse passio simulatque eius claram et distinctam formamus ideam.” Emosi, yang merupakan penderitaan berhenti menjadi derita segera setelah kita mendapatkan gambaran yang jelas tentangnya.
Para tawanan yang telah kehilangan harapan tentang masa depan—masa depannya—telah dihukum. Dengan kehilangan harapannya, ia telah kehilangan pegangan spiritual; ia membiarkan dirinya merosot dan menjadi subjek pembusukan mental dan fisik. Biasanya, peristiwa ini mendadak, dalam bentuk krisis, simptom yang sangat umum di kalangan penghuni kamp. Kita semua takut dengan momen ini—bukan untuk diri kita sendiri, yang menjadi tak bermakna, namun juga untuk teman kita. Biasanya, hal itu dimulai dengan penolakan tawanan suatu pagi untuk mengenakan pakaian dan mencuci atau pergi ke lapangan parade. Bujukan, pukulan, perlakuan apa pun tidak ada yang mampu mempengaruhinya. Ia hanya berbaring di sana dan tidak bergerak. Bila krisis itu bersama-sama dengan sakit, ia tidak mau dibawa ke ruang perawatan dan menolak apa pun yang akan dilakukan untuk membantunya. Ia menyerah. Ia tetap tinggal di sana, berbaring dalam kotorannya sendiri. Tak ada lagi yang ia pedulikan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan