MAN SEARCH FOR MEANING-45

Tentang nasib orang yang sakit—khususnya yang tidak dapat disembuhkan. Suatu saat saya pernah membaca surat seorang pemuda yang sudah di ambang kematian, yang menceritakan kepada temannya bahwa ia tahu hidupnya tidak akan lama lagi, bahkan operasi pun tidak akan dapat membantu. Dia menceritakan kepada temannya bahwa ia pernah menonton film yang mengisahkan seseorang yang menunggu kematian dengan gagah berani dan bermartabat. Pemuda itu berpikir, adalah suatu penyelesaian agung menjumpai kematian dengan baik. Ia selanjutnya menulis bahwa ia telah memperoleh kesempatan yang sama.
Bagi kita yang pernah menonton film dengan judul Resurrection— yang diambil dari novel Tolstoy—beberapa tahun yang lalu, mungkin akan memikirkan hal yang sama. Dalam kisah itu ada nasib agung dan manusia agung. Bagi kita, pada saat itu mungkin berpikir bahwa tidak ada nasib yang agung, tidak ada kesempatan untuk meraih keagungan. Setelah itu, kita pergi ke kafe terdekat dan setelah menyelesaikan segelas kopi dan sepotong sandwich kita melupakan pemikiran tentang persoalan metafisik yang mengusik pikiran kita. Namun, ketika kita dihadapkan dengan nasib agung dan melaluinya dengan keputusan untuk menjumpainya dengan keagungan spiritual yang sama, dengan demikian kita telah melupakan resolusi yang kurang matang pada pemikiran kita jauh sebelumnya, dan kita gagal.
Mungkin akan tiba suatu saat bagi kita untuk menyaksikan film yang sama kembali atau yang sejenisnya, namun  dengan demikian, gambaran yang lain akan terbuka kembali secara simultan dalam mata batin seseorang. Gambaran dari orang-orang yang mencapai lebih dalam hidup mereka dari pada yang semata-mata digambarkan oleh film itu. Beberapa detail dari sebagian keagungan batin seseorang dapat muncul pada pikiran orang lain, seperti kisah wanita muda yang saya saksikan sendiri meninggal di kamp konsentrasi. Ceritanya sederhana, hanya sedikit yang bisa dijelaskan dan seolah-olah hanya saya yang menemukannya, namun bagi saya hal itu merupakan suatu syair.
Wanita muda itu tahu bahwa ia akan meninggal dalam beberapa hari ke depan. Namun, ketika saya berbicara dengannya, ia gembira alih-alih tenggelam dalam pikiran tentang kematiannya. “Saya bersukur bahwa nasib telah menguji saya sedemikian besar,” ujarnya. “Dalam seluruh kehidupan saya sebelumnya, saya manja dan tidak pernah memperhatikan pemenuhan spiritual secara serius.” Sambil menunjuk melalui jendela pondok ia berkata, “Hanya pohon yang ada di sanalah yang menjadi satu-satunya teman saya dalam kesepian.” Melalui jendela itu ia melihat cabang pohon coklat yang di cabang itu terdapat dua tangkai bunga. “Saya biasanya berbicara dengan pohon itu,” katanya. Saya tertegun dan tidak segera paham makna kata-katanya. Apakah ia mengigau? Apakah ia berhalusinasi? Dengan cemas saya bertanya padanya apakah pohon itu menjawab. “Ya.” Apa yang ia katakan padanya? Ia menjawab, “Ia berkata padaku: saya ada di sini, saya ada di sini, saya hidup, hidup yang kekal.”
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan