MAN SEARCH FOR MEANING-44

Hidup yang aktif menyediakan tujuan dan memberikan kesempatan bagi manusia untuk merealisasikan nilai dalam karya cipta. Sementara hidup yang pasif menikmati memberikannya kesempatan untuk mendapatkan pemenuhan dalam pengalaman tentang keindahan, seni, atau alam. Namun, ada juga tujuan dalam hidup itu yang hampir tidak memiliki keduanya, kreasi dan kenikmatan dan yang mengakui bahwa hanya satu  kemungkinan kebaikan moral tertinggi: namanya, dalam sikap manusia terhadap eksistensinya, suatu eksistensi yang dibatasi oleh kekuatan luar. Hidup yang kreatif dan hidup yang menikmati, dibatasi padanya. Namun bukan hanya daya cipta dan kenikmatan yang  bermakna. Bila dalam hidup memang ada makna, seharusnya juga ada makna dalam penderitaan. Penderitaan adalah bagian yang tak terhapuskan dalam kehidupan, bahkan seperti takdir dan kematian. Tanpa takdir dan kematian, hidup manusia tidak akan pernah sempurna.
Jalan di mana seseorang menerima takdir dan penderitaan yang menderanya, jalan di mana ia memikul salibnya, memberinya kesempatan yang cukup—bahkan dalam situasi lingkungan yang sangat sulit—menambahkan makna yang lebih dalam ke dalam hidupnya. Hal itu akan membuat berani, bermartabat, dan tidak mementingkan diri sendiri. Sebaliknya, dalam pertarungan sengit pelestarian diri, dia bisa lupa dengan martabatnya dan menjadi tidak lebih dari sekadar hewan. Di sini terletak peluang bagi seseorang apakah ia menggunakan atau melupakan kesempatan untuk meraih nilai moral di mana situasi sulit dapat memampukannya, dan keputusan itu akan menentukan apakah ia layak untuk penderitaanya atau tidak.
Jangan berpikir bahwa pertimbangan ini adalah sesuatu yang tidak mendunia dan terlalu jauh dari realitas hidup. Benar bahwa hanya beberapa orang yang memiliki kemampuan mencapai standar nilai moral yang tinggi. Para tawanan, hanya segelintir yang dapat menjaga kebebasan batin mereka secara penuh dan menggunakan nilai itu untuk memampukan penderitaan mereka. Contoh itu merupakan bukti yang cukup bahwa kekuatan batin dapat menuntun seseorang dari takdirnya. Hal itu berlaku bukan hanya bagi seseorang yang hidup di kamp konsentrasi. Setiap orang di mana pun selalu berhadapan dengan nasib, dengan kesempatan untuk meraih melalui penderitaannya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan