MAN SEARCH FOR MEANING-43

Kita yang berada di kamp konsentrasi dapat mengingat bahwa ada orang yang berjalan dari pondok ke pondok untuk menenangkan para tawanan, memberikan potongan roti terakhir mereka. Mungkin jumlah mereka hanya segelintir, namun hal itu adalah bukti yang cukup bahwa segala sesuatu dapat dirampas dari manusia, namun satu hal, kebebasan manusia—menentukan sikap dalam lingkungan tertentu, memilih jalan seseorang.
Dan selalu ada pilihan yang dapat dibuat. Setiap hari, setiap jam selalu ada peluang untuk membuat keputusan, keputusan yang akan menentukan apakah anda akan atau tidak akan menyerah kepada kekuatan yang akan merampas kedirian anda, kebebasan batin anda,  yang menentukan apakah anda akan menjadi pemain dalam situasi tertentu, melepaskan kebebasan dan kehormatan dan menjadi seperti tawanan.
Berdasarkan cara pandang ini, reaksi mental tawanan kamp konsentrasi akan tampak lebih jelas pada kita dari pada sekadar ekspresi terhadap kondisi psikis dan sosilogis tertentu. Meskipun kondisi seperti kurang tidur, kekurangan makanan, dan berbagai tekanan mental menunjukkan bahwa para tawanan terikat pada reaksi mental dalam cara tertentu, analisis akhir menunjukkan dengan jelas bahwa bagi beberapa orang tawanan, hal itu adalah hasil keputusan batin, dan bukan semata-mata hasil dari lingkungan kamp konsentrasi. Pada dasarnya, setiap manusia bisa, bahkan dalam situasi yang ditentukan, memilih menjadi apa yang harus dilakukan—secara mental dan spiritual. Dia bisa mempertahankan martabatnya bahkan dalam kehidupan di kamp konsentrasi. Dostoevski pernah berkata, “ Hanya satu hal yang saya cemaskan: aku tidak layak dengan penderitaanku.” Kata-kata it uterus-menerus merasuki pikiran saya setelah saya berkenalan dengan para martir itu, yang menderita dan mati, terus-menerus bersaksi tentang fakta bahwa kebebasan batin tidak akan pernah musnah. Dapat dikatakan bahwa mereka nyaman dengan penderitaannya. Cara di mana mereka bosan dengan penderitaan mereka adalah salah satu pencapaian batin yang sejati. Hal itu adalah kebebasan spiritual —yang tak bisa dirampas— yang membuat hidup penuh makna dan bertujuan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan