MAN SEARCH FOR MEANING-41

Ketika mayoritas yang terdegradasi dan minoritas yang terpromosi mengalami konflik (dan kemungkinan ini sangat terbuka, mulai dari perbedaan dalam pembagian makanan) hasilnya adalah ledakan. Lagi pula, perasaan yang mudah emosi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya akan menjadi lebih mudah ketika tegangan mental terjadi. Bukan hal yang aneh jika tegangan itu berakhir dengan tawuran. Karena para tawanan secara berkelanjutan menyaksikan skenario pemukulan, dorongan untuk melakukan kekerasan semakin meningkat.
Saya sendiri merasa tinju saya terkepal bila rasa marah menghinggapi saya saat lapar dan lelah. Saya biasanya sangat lelah, sejak kami harus menyalakan tungku—di mana kami diijinkan untuk tinggal menjaga pasien penderita tipus—sepanjang malam. Kadang, banyak dari waktu terindah yang saya miliki, habis di saat tengah malam, ketika yang lainnya tengah terlelap atau mengigau. Saya berbaring di depan perapian sambil memanggang kentang sisa pada api yang dibuat dari arang curian. Namun, hari berikutnya saya masih merasa makin lelah, makin sensitif, dan makin mudah marah.
Ketika saya bekerja sebagai dokter bagi pasien tipus, saya juga harus merawat sipir senior yang sakit. Akibatnya, saya harus bertanggung jawab kepada otoritas kamp untuk menjaga kebersihan pondok—dimana “bersih” digunakan untuk menyatakan situasi apa saja. Dalih yang disampaikan pada saat inspeksi ke pondok lebih ditujukan sebagai alasan untuk penyiksaan dari pada kebersihan. Banyak makanan dan obat-obatan akan membantu, namun hanya perhatian inspektor apakah sepotong sedotan yang tertinggal di ruang tengah, atau apakah karena kotor, kain lap atau selimut berkutu pasien yang terselip rapi di kaki mereka. Sementara takdir para tawanan, hampir tidak ada perhatian mereka. Bila saya laporkan dengan cerdas sambil melepas topi tawanan saya dari kepala yang dicukur, “ Pondok nomor VI/9: 52 pasien, dua perawat, dan satu dokter,” mereka akan puas…
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan