MAN SEARCH FOR MEANING-40

Di samping penyebab fisik itu, ada juga penyebab mental dalam bentuk kompleks tertentu. Sebagian besar tawanan menderita kompleks inferior. Kami kadang membayangkan diri kami sendiri sebagai seseorang. Sekarang kami diperlakukan sebagai nonentitas secara sempurna (Kesadaran batin seseorang tertambat pada sesuatu yang lebih tinggi, lebih dari sekadar spiritual, dan tidak tergoyahkan oleh kehidupan kamp. Namun berapa orang dari antara penghuni kamp yang memilikinya?) Tanpa kesadaran tentang hal itu, umumnya para tawanan merasa dirinya telah mengalami degradasi mental. Hal ini menjadi jelas ketika seseorang diobservasi dengan menggunakan struktur sosiologi tunggal kamp.
Para tawanan yang paling menonjol, Capo, juru masak, penjaga toko, dan polisi kamp, sebaliknya tidak demikian, mereka merasa dipromosikan. Beberapa orang bahkan mengembangkan delusi miniatur, merasa agung. Reaksi mental seperti rasa iri dan gerutuan sebagian besar tawanan terhadap kenikmatan kecil itu diekspresikan dengan berbagai cara, kadang-kadang dengan candaan. Misalnya, saya dengar seorang tawanan membicarakan tentang Capo kepada yang lainnya dengan mengatakan,”Bayangkan! Saya mengenalnya sebelumnya hanya sebagai presiden sebuah bank besar. Bukankah ia  beruntung sudah menjadi demikian terkenal sejauh ini?”
Ketika mayoritas yang terdegradasi dan minoritas yang terpromosi mengalami konflik (dan kemungkinan ini sangat terbuka, mulai dari perbedaan dalam pembagian makanan) hasilnya adalah ledakan. Lagi pula, perasaan yang mudah emosi seperti yang sudah disebutkan sebelumnya akan menjadi lebih mudah ketika tegangan mental terjadi. Bukan hal yang aneh jika tegangan itu berakhir dengan tawuran. Karena para tawanan secara berkelanjutan menyaksikan skenario pemukulan, dorongan untuk melakukan kekerasan semakin meningkat.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan