MAN SEARCH FOR MEANING

Ratusan tawanan diangkut dengan kereta api untuk beberapa hari. Ada delapan puluh orang setiap kelompok. Para tawanan harus duduk di atas koper masing-masing, barang milik yang tersisa. Gerbong demikian sesak, hanya bagian atas jendela yang bebas memancarkan remang-remang fajar. Semuanya berharap kereta akan menuju pabrik mesiu, tempat di mana kami akan menjalani kerja paksa. Kami sama sekali tidak tahu apakah kami masih di Silesia atau di Polandia. Bunyi mesin kereta demikian mengerikan, bagaikan jeritan minta tolong yang datang dari perasaan menyesal dan rasa tidak bahagia yang bergerak menuju kebinasaan. Kemudian, kereta bergerak tampaknya sudah mendekati stasiun utama. Tiba-tiba terdengar teriakan dari seseorang di antara penumpang yang gelisah, “Itu tanda, Auschwitz.” Semua orang merasakan jantungnya berhenti berdetak pada momen itu. Auschwitz, nama yang mengerikan: kamar gas, krematorium, pembantaian. Pelan-pelan, kereta bergerak lambat seakan sengaja menanamkan perasaan mengerikan pada penumpangnya selama mungkin: Auschwitz.
Ketika fajar semakin menyingsing, gambaran kamp yang sangat luas samar-samar mulai tampak. Pagar kawat duri yang sangat panjang, menara pengawas, lampu sorot, dan tiang panjang dengan bayangan manusia dalam remang-remang fajar sepanjang jalan sepi, dan tujuan yang tidak kami tahu. Ada teriakan dan bunyi peluit yang tidak kami tahu artinya. Imajinasi saya mengarahkan saya membayangkan tiang gantungan dengan orang tergantung di sana. Saya merasa ngeri, namun secara berangsur mulai memudar. Pelan-pelan kami mulai terbiasa dengan horor mengerikan….
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan