MAN SEARCH FOR MEANING-38

Saya membayangkan kebebasan dengan sukacita, betapa indahnya menyongsong front pertempuran. Namun, kami tidak meraihnya sejauh ini.
Sesaat setelah teman saya kembali, pintu gerbang kamp telah dibuka. Sebuah mobil mewah berwarna perak dengan cat palang merah bergerak pelan memasuki lapangan parade. Sebuah delegasi dari Palang Merah Internasional yang bermarkas di Genewa telah tiba, dank amp beserta seluruh penghuninya berada dalam pengawasan mereka. Delegasi mendirikan gubuk di sekitarnya, dengan tujuan agar tetap dekat ke kamp jika sewaktu-waktu terjadi situasi darurat. Siapa yang mau memikirkan untuk melarikan diri lagi sekarang? Kotak obat-obatan telah dikeluarkan dari mobil, rokok dibagikan, kami berfoto dan merayakan kebebasan tertinggi.Kini tidak ada lagi keinginan untuk mengambil risiko menuju garis pertempuran.
Dalam luapan suka cita, kami melupakan ketiga mayat tadi, lalu kami mengangkatnya dan memasukkan ketiganya ke dalam kuburan yang sudah kami gali sebelumnya. Pengawas yang menemani kami—salah seorang yang cenderung tidak ofensif—tiba-tiba menjadi baik. Ia melihat bahwa keadaan sudah berbalik dan ia mencoba mengambil hati kami. Ia mengikuti acara doa singkat yang kami lakukan untuk ketiga mayat itu sebelum menaburkan tanah.Setelah ketegangan dan suka cita di waktu yang lalu, hari-hari terakhir kami dalam perjalanan menuju kematian, kata-kata dalam doa kami memohon perdamaian dengan gairah yang meluap-luap.
Selanjutnya, hari-hari di kamp dilewatkan dengan harapan akan kebebasan. Namun kami telah merayakannya lebih awal. Delegasi Palang Merah memastikan kepada kami bahwa kesepakatan telah ditandatangani, dank amp tidak boleh lagi dievakuasi. Namun, malam itu SS datang dengan truk dengan perintah untuk mengosongkan kamp. Para tawanan terakhir yang masih tinggal akan dibawa ke kamp pusat, dan dari sana akan dikirim ke Switzerland dalam empat puluh delapan jam, untuk dipertukarkan dengan tawanan perang yang lain. Kami sangat jarang mengakui SS. Mereka mencoba bersahabat dan membujuk kami agar naik truk tanpa rasa takut, mengatakan kepada kami bahwa kami akan bersyukur atas nasib baik kami. Mereka yang masih cukup kuat untuk meloncat ke truk sementara yang sakit parah dan lumpuh diangkut dengan susah payah. Saya dengan teman saya—kini tidak lagi menyembunyikan ransel—berada pada kelompok terakhir, yang dari sana akan dipilih tiga belas orang berikutnya yang akan diangkut dengan truk. Dokter kepala menghitung jumlah yang diperbolehkan, namun ia mengurangi kami berdua. Tiga belas diangkut ke truk dan kami harus menunggu.Kejutan, dengan sangat menyesal dan kecewa, kami menyalahkan dokter kepala, yang memaafkan dirinya sendiri dengan mengaku bahwa ia sangat lelah   dan  ia berpikir bahwa kami sudah melarikan diri.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan