MAN SEARCH FOR MEANING-37

Saya berlari kembali ke pondok saya untuk mengumpulkan perkakas milik saya: mangkok makanan, sepasang sarung tangan robek ‘warisan’ dari seorang pasien tipus yang meninggal, beberapa lembar kertas catatan singkat (seperti yang saya sebutkan, saya sudah mulai merekonstruksi manuskrip yang hilang di Auschwitz). Saya melakukan pemeriksaan cepat kepada pasien-pasien saya, yang terbaring meringkuk di papan kayu yang busuk di sisi kiri dan kanan pondok. Saya mendatangi teman sebangsa saya yang sudah hampir mati, dan mereka yang hidupnya masih berada dalam ambisi saya untuk menyelamatkannya, terlepas bagaimana pun kondisinya. Saya mesti menyadari tujuan saya untuk melarikan diri, namun teman saya tampaknya menduga bahwa ada yang tidak beres (mungkin saya menunjukkan sedikit ketegangan). Dalam suara yang lelah ia bertanya, “Kamu, juga akan keluar?” Saya menyangkalnya, namun saya menemui kesulitan untuk menghindar dari tatapan sedihnya.
Setelah selesai pemeriksaan, saya kembali padanya. Lagi-lagi tatapan sedihnya menyambut saya dan kadang saya merasakannya sebagai tuduhan. Perasaan tidak tenang semakin intens sejak saya katakan pada teman saya bahwa saya ikut bersamanya melarikan diri. Tibatiba saya memutuskan untuk meletakkan takdir saya pada tangan saya sendiri. Saya berlari dari pondok dan mengatakan kepada teman saya bahwa saya tidak jadi ikut bersamanya. Segera setelah saya katakan hal itu padanya dan akhirnya menetapkan pikiran saya untuk tetap tinggal bersama pasien saya, perasaan tidak bahagia meninggalkan saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya, namun untuk pertama kali saya merasakan kebahagiaan batin. Saya kembali ke pondok, duduk di kursi di bawah kaki pasien teman sebangsa saya, saya coba menenangkannya, kemudian saya mengobrol dengan yang lainnya, mencoba meredakan demam tinggi mereka.
Hari terakhir kami di kamp tiba. Karena front pertempuran semakin dekat, pengangkutan massal hampir semua tawanan ke kamp lain dilakukan. Otoritas kamp, para Capo, dan juru masak telah melarikan diri. Pada hari itu dipastikan bahwa semua penghuni kamp harus dievakuasi setelah matahari terbenam. Bahkan beberapa tawanan yang tersisa (yang sakit, beberapa dokter, dan beberapa perawat) seluruhnya harus meninggalkan tempat. Malamnya, kamp direncanakan dibakar. Sore harinya, truk yang akan mengangkut orang sakit belum juga muncul. Sebaliknya, gerbang kamp tiba-tiba telah ditutup dan kawat duri diawasi dengan ketat sehingga tak seorang pun bisa melarikan diri. Para tawanan yang tinggal tampaknya akan dibajkar bersama kamp. Untuk kedua kalinya saya dan teman saya memutuskan untuk melarikan diri.
Kami ditugasi untuk menguburkan tiga orang tawanan yang meninggal di samping pagar kawat berduri. Hanya kami berdua di kamp yang masih sanggup untuk melakukan tugas itu. Hampir semua yang lainnya berbaring di beberapa pondok yang masih digunakan bergelimpangan karena sakit dan demam tinggi.  Sekarang kami membuat rencana: pada tubuh orang pertama kami akan menyeludupkan ransel teman saya di dalam bak cuci tua yang digunakan sebagai peti mati. Ketika kami mengangkat orang kedua, kami akan menyeludupkan ransel saya, dan saat mengangkat orang yang ketiga, kami akan melarikan diri. Rencana pertama dan kedua berjalan mulus sesuai skenario. Ketika kami kembali untuk melakukan yang ketiga, saya menunggu teman saya yang mencari beberapa potong roti yang dapat kami makan untuk beberapa hari dalam pelarian kami di hutan. Saya menunggu. Beberapa menit berlalu ia belum kembali. Saya menjadi makin tidak sabar karena ia tidak datang-datang.
Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan