MAN SEARCH FOR MEANING-36

Para penghuni kamp sangat ketakutan membuat keputusan atau mengambil inisiatif. Hal itu disebabkan perasaan yang sangat kuat bahwa takdir seseorang telah ditentukan dan tidak seharusnya berupaya mengubahnya, namun harus pasrah pada apa yang akan terjadi. Sebagai tambahan, rasa apatis yang sangat besar juga berperan dalam perasaan para tawanan. Kadang, keputusan cepat harus dibuat, keputusan yang berhubungan dengan hidup dan mati. Para tawanan lebih memilih takdir yang menentukan apa yang terjadi pada mereka.
Upaya mengelak dari komitmen paling sering muncul  ketika tawanan harus membuat keputusan untuk upaya melarikan diri. Pada saat itu, ia harus membuka pikirannya—dan hal itu biasanya harus diputuskan dengan segera—ia menderita siksa neraka. Apakah ia harus melarikan diri? Apakah ia harus mengambil risiko?
Saya juga mengalami siksaan itu. Ketika front pertempuran semakin dekat, saya memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Teman saya yang sedang mengunjungi pondok yang berdekatan ketika menjalankan tugas medisnya berniat melarikan diri dan mengajak saya ikut. Dengan berpura-pura melakukan konsultasi tentang pasien yang sakit dan membutuhkan saran spesialis,  ia akan menyeludupkan saya. Di luar, anggota gerakan perlawanan bersiap-siap memberikan kami seragam dan dokumen. Pada saat-saat terakhir, terjadi kesulitan teknis dan membuat kami harus kembali ke kamp sekali lagi. Kami gunakan kesempatan itu untuk mempersiapkan perbekalan—beberapa kentang busuk—dan mempersiapkan ransel.
Kami menerobos ke sebuah pondok kosong di kamp wanita, yang tidak digunakan karena para tawanan wanita telah dipindahkan ke kamp lain. Pondok itu dalam keadaan berantakan, kain lap berserakan di mana-mana, dan perabotan yang rusak. Beberapa mangkok masih dalam kondisi baik dan mungkin sangat bernilai bagi kami, namun kami putuskan untuk tidak mengambilnya. Kami tahu bahwa akhir-akhir ini, karena kondisi menjadi tak menentu, mereka telah menggunakan barang-barang itu bukan hanya untuk makanan, tetapi juga untuk cuci tangan dan pot untuk buang air (ada aturan yang ketat di pondok yang tidak memperbolehkan seseorang memiliki beberapa perabotan. Kadang, beberapa orang melanggar aturan itu, khususnya pasien penderita tipus, yang terlalu lemah untuk ke mana-mana tanpa bantuan orang lain). Saat saya bertindak seolah-olah sebagai peneliti, teman saya masuk ke pondok dan dalam waktu singkat ia kembali dengan ransel yang disembunyikan di dalam jaketnya. Dia melihat yang lain selain yang saya ambil. Kami bertukar tempat dan saya pergi. Setelah saya cari dalam tumpukan sampah, menemukan ransel dan bahkan sikat gigi, saya tiba-tiba melihat sesuatu di dalam tumpukan barang-barang itu, tubuh seorang wanita.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan