MAN SEARCH FOR MEANING-35

Otto, di manakah engkau sekarang? Apakah kamu masih hidup? Apa yang terjadi padamu sejak pertemuan terakhir kita? Apakah kamu bertemu dengan istrimu? Dan apakah kamu ingat bagaimana saya mengajarimu tentang kehendak hati saya —kata demi kata—alih-alih meneteskan air mata?
Pagi berikutnya, kami diberangkatkan. Kali ini bukan tipu-muslihat. Kami tidak dibawa ke kamar gas, tetapi memang benar-benar menuju kamp peristirahatan. Mereka yang merasa kasihan terhadap saya justru tinggal di kamp yang kelaparan dan penderitaan mereka lebih buruk dibanding  di kamp baru kami. Mereka berupaya menyelamatkan diri, namun mereka hanya menyegel takdir mereka.
Sebulan berikutnya, setelah kami dibebaskan, saya berjumpa dengan seorang teman dari kamp sebelumnya. Ia menceritakan kepada saya tentang bagaimana ia, sebagai seorang polisi kamp, mencari sepotong daging manusia yang hilang dari tumpukan mayat, dan menemukan ternyata daging itu sudah ada di periuk dan dimasak. Kanibalisme meletus. Saya meninggalkannya pada saat yang tepat.
Hal ini mengingatkan saya pada kisah dari Teheran. Seorang tuan yang kaya dan berkuasa di Teheran sedang jalan-jalan di taman ditemani pelayannya. Sang pelayan menangis dan menceritakan kepada tuannya bahwa ia baru saja bertemu dengan Maut yang mengancamnya. Ia memohon diberikan kuda yang paling cepat agar ia bisa memacunya dan melarikan diri ke Teheran, dan segera tiba di sana besok pagi. Tuannya menyetujuinya dan ia pun memacu kuda itu. Ketika tuan itu kembali ke rumahnya sendirian, ia bertemu dengan Maut dan bertanya, “Mengapa kamu menakut-nakuti dan mengancam pelayan saya?” “Saya tidak mengancamnya; saya hanya terkejut melihatnya masih ada di sini, sementara saya berencana menemuinya di Teheran malam ini.” Jawab Maut.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan