MAN SEARCH FOR MEANING-34

Di Auschwitz, saya memegang teguh aturan untuk diri saya sendiri, yang terbukti baik dan kemudian diikuti oleh teman-teman saya. Saya biasanya menjawab semua jenis pertanyaan dengan sejujur-jujurnya. Namun, saya akan diam terhadap pertanyaan yang tidak bisa saya jawab. Jika saya ditanya tentang umur saya, saya jawab dengan jujur. Jika saya ditanya tentang profesi saya, saya katakana bahwa saya seorang dokter, namun tidak menjelaskan lebih rinci.
Pagi pertama di Auschwitz seorang petugas datang ke lapangan parade. Kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok: usia di bawah empat puluh dan di atas empat puluh, pekerja logam, mekanik, dan seterusnya. Kemudian kami diperiksa kesehatannya dan para tawanan harus membentuk kelompok baru. Kelompok di mana saya berada digiring ke pondok yang lain dan disuruh berbaris. Setelah disortir dan menjawab berapa usia dan pekerjaan saya, saya dikirim lagi ke kelompok lain yang lebih kecil.Sekali lagi, kami digiring ke pondok lain dalam kelompok yang berbeda.
Hal itu berlanjut hingga beberapa kali, dan saya menjadi tidak senang mendapati diri saya berada dalam kelompok asing yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti. Kemudian seleksi dilakukan lagi, dan akhirnya saya kembali berada di kelompok saya yang pertama. Mereka hampir tidak menyadari bahwa sementara waktu saya sudah dikirim dari satu pondok ke pondok lain. Namun saya menyadari betul bahwa takdir telah melepaskan saya dalam berbagai bentuk yang berbeda.
Ketika pengangkutan tawanan yang sakit ke kamp peristirahatan dilakukan, nama saya (maksudnya nomor saya) dimasukkan di daftar, sebab dibutuhkan dokter untuk merawat tawanan yang sakit. Namun, tak seorang pun yang yakin bahwa tujuan pengangkutan benar-benar ke kamp peristirahatan. Seminggu sebelumnya pengangkutan yang sama telah disiapkan. Kemudian, setiap orang berpikir bahwa tujuan sebenarnya adalah ruang gas. Ketika diumumkan bahwa siapa saja yang menjadi relawan pada shift malam akan dimasukkan ke daftar, delapan puluh dua tawanan segera menjadi relawan. Seperempat jam berikutnya, keberangkatan ditunda, namun ke delapan puluh dua orang tetap ada dalam daftar jaga malam. Bagi kebanyakan mereka, hal itu berarti kematian akan tiba dua malam berikutnya.
Kini, pengangkutan ke kamp peristirahatan diatur kembali. Lagi-lagi tak seorang pun tahu apakah hal ini suatu tipu-muslihat untuk memperoleh sedikit pekerjaan terakhir dari yang sakit—bila mana untuk empat puluh hari—atau bila mana benar-benar dikirim ke ruang gas atau ke kamp peristirahatan. Kepala dokter, yang tampaknya senang dengan saya, secara diam-diam mengatakan kepada saya pada suatu malam pukul sepuluh kurang lima belas menit. “Saya telah membuatnya diketahui sesuai tata tertib   bahwa nama Anda masih bisa dicoret dari daftar; Anda juga masih bisa melakukannya hingga pukul sepuluh.”
Saya katakana padanya bahwa itu bukanlah jalan yang saya tempuh; bahwa saya telah belajar membiarkan takdir berlangsung sebagaimana adanya. “Saya akan tetap bersama teman-teman saya,” ujar saya. Tampak pandangan belas kasihan darinya, seolah-olah dia tahu bahwa kematian saya sudah dekat. Ia mengguncang kedua lengan saya dengan pelan, sebagai tanda perpisahan, bukan untuk hidup, tetapi perpisahan dari kehidupan. Saya kembali ke pondok, berjalan dengan pelan. Di sana seorang teman baik sudah menunggu.
“Apakah Anda benar-benar pergi dengan mereka?” tanyanya dengan nada sedih.
“Ya, benar.” Jawabku.
Air mata mengalir di pipinya, dan saya mencoba menyenangkannya. Kemudian ada sesuatu yang harus dilakukan—membuat kehendak saya:
“Dengar, Otto, jika saya tidak pulang ke istri saya, dan suatu saat kamu bertemu dengannya, katakana padanya bahwa saya membicarakannya setiap jam, setiap hari. Kedua, saya mencintainya lebih dari siapa pun. Ketiga,  meski saya menikah dengannya masih begitu singkat, namun hal itu melebihi apapun yang saya alami, bahkan yang kita alami di sini.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan