MAN SEARCH FOR MEANING-33

Sangat sulit bagi orang luar untuk memahami betapa sedikitnya nilai yang ada pada kehidupan di kamp. Penghuni kamp menjadi keras, namun mungkin menjadi lebih sadar terhadap pengabaian sempurna eksistensi manusia ketika konvoi tawanan yang sakit disusun. Tubuh kerempeng tawanan yang sakit dimasukkan kedalam keranjang yang  diseret oleh para tawanan dalam badai salju dari satu kamp ke kamp lain dengan jarak beberapa mil. Bila seorang tawanan meninggal sebelum keranjang tiba, ia dilemparkan begitu saja—namun daftarnya harus cocok! Daftar menjadi satu-satunya hal yang penting. Seseorang diperhitungkan hanya karena dia memiliki nomor tawanan. Seseorang secara harfiah menjadi nomor: tidak penting apakah ia hidup atau mati. Kehidupan bagi sebuah ‘angka’tidaklah relevan sama sekali. Apa yang ada pada sebuah angka dan kehidupan bahkan harus dihilangkan: nasib, sejarah, dan nama seseorang.
Dalam kapasitas saya sebagai dokter, dalam pengakutan pasien yang sakit, saya harus mendampingi mereka dari satu kamp ke kamp lain di Bavaria, ada seorang tawanan muda yang namanya tidak terdapat di daftar yang akan berangkat. Ia sangat memohon kepada pengawas agar  memasukkannya dalam daftar untuk menggantikan seseorang yang lebih ingin tetap tinggal. Namun, karena daftar itu memang harus tetap, maka ia memutuskan untuk mengganti nomornya dengan yang lain.
Seperti saya nyatakan sebelumnya, kami tidak memiliki dokumen; setiap orang beruntung pada tubuhnya sendiri;yang masih bisa bernafas. Semua hal lain tentang kami, misalnya pakaian compang-camping yang tergantung pada tubuh kerempeng, hanya penting ketika kami dimasukkan dalam daftar yang akan diangkut sebagai orang sakit. Orang sakit yang berangkat diperiksa dengan cara tanpa tahu malu untuk melihat barangkali jaket atau sepatu mereka tidak lebih baik dari yang dimilikinya. Setelah itu, nasib mereka disegel. Namun, bagi mereka yang tetap tinggal di kamp, mereka yang  tetap masih bisa bekerja, harus menggunakan setiap kondisi untuk meningkatkan kesempatan mereka untuk tetap bertahan. Mereka tidak cengeng. Para tawanan memahami bahwa mereka secara sempurna sangat tergantung pada perasaan hati para pengawas—permainan nasib—dan ini membuat mereka bahkan lebih kehilangan kemanusiaan dari pada yang seharusnya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan