MAN SEARCH FOR MEANING-32

Tentu ada saatnya, bila memungkinkan dan bahkan memang penting untuk keluar dari kerumunan. Umumnya diketahui bahwa suatu komunitas kehidupan yang dipaksakan, di mana perhatian ditujukan pada apa yang dilakukan oleh seseorang sepanjang waktu, dapat menghasilkan dorongan tak tertahankan untuk keluar, paling tidak untuk sementara waktu. Tawanan sangat mendambakan bisa menyendiri, dengan pikiran dan dirinya sendiri. Ia membutuhkan privacy dan kesendirian. Sejak pengangkutan saya ke kamp yang disebut ‘kamp peristrahatan’, saya memiliki keberuntungan bisa menyendiri, sekitar lima menit setiap kalinya. Di samping lapangan pondok di mana saya bekerja yang diisi oleh sekitar lima puluh pasien demam tinggi yang berdesakan, ada sebuah tempat di sudut pagar ganda dengan kawat berduri sekeliling kamp. Sebuah tenda didirikan di sana dengan beberapa lubang dan ranting-ranting pohon menaungi sekitar enam orang mayat (jumlah kematian rata-rata di kamp per harinya). Di sana ada juga lubang yang mengarah ke pipa air. Di sana, di atas tutup papan lubang itu, saya duduk-duduk ketika tenaga saya tidak dibutuhkan. Saya duduk saja di sana dan memandang hijaunya bunga-bunga di lereng dan bukit yang biru di kejauhan lanskap Bavaria dibingkai oleh jalinan kawat duri. Saya diterpa oleh kerinduan, dan pikiran saya mengembara menuju arah antara Utara dan Timur Laut, arah rumah saya, namun saya hanya bisa menatap awan.
Mayat di samping saya, yang dijalari oleh kutu, tidak saya pedulikan. Hanya langkah pengawas yang lewat yang bisa membangunkan saya dari bayangan, atau mungkin panggilan untuk memeriksa orang sakit dan menyusun suplai obat-obatan yang baru  tiba di pondok saya—yang terdiri dari  lima hingga sepuluh butir tablet aspirin untuk beberapa hari bagi lima puluh pasien. Saya mengumpulkannya dan melakukan pekerjaan saya, merasakan denyut nadi pasien dan memberikan setengah tablet aspirin bagi penderita yang parah. Namun penderita yang sangat parah tidak mendapatkan  obat. Hal itu tidak akan membantu. Lagi pula, memberikan obat pada mereka akan menghilangkan kesempatan bagi mereka yang masih memiliki pengharapan. Dalam beberapa kasus, saya tidak memiliki apapun kecuali kata-kata penghiburan. Dalam situasi demikian, saya berupaya menjumpai pasien satu-persatu, hingga saya pun lemah dan menderita serangan tipus yang parah. Kemudian saya kembali ke tempat sunyi itu, tutup kayu lubang air.
Lubang ini, secara insidentil, berhasil menyelamatkan tiga nyawa tawanan. Beberapa saat sebelum pembebasan, pengangkutan missal dilakukan ke Dachau, dan tiga tawanan itu berusaha menghindari pengangkutan. Mereka bersembunyi di bawah lubang agar tidak terlihat oleh pengawas. Saya dengan tenang duduk di atas tutup lubang dan bermain seperti anak kecil dengan melempar kerikil kea rah kawat berduri. Memperhatikan saya, pengawas bimbang kemudian pergi. Setelah itu saya beritahukan kepada ketiga tawanan bahwa pengawas sudah pergi dan bahaya paling buruk pun berlalu.  
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan