MAN SEARCH FOR MEANING-31

Bagi saya, ini adalah matematika sederhana, bukan pengorbanan. Namun secara diam-diam, petugas dari bagian sanitasi telah memesankan agar kedua dokter relawan untuk kamp penderita typus harus diperhatikan hingga mereka pergi. Kami tampaknya sangat lemah dan membuatnya berpikir bahwa ia akan mendapat tambahan dua mayat alih-alih mendapat dua dokter.
Saya sebutkan sebelumnya bagaimana segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan tugas mendesak melindungi diri sendiri dan teman terdekat agar tetap bertahan kehilangan nilainya. Segala sesuatu akhirnya dikorbankan. Karakter seseorang dipengaruhi oleh hal bahwa dia akan mengalami gejolak mental dengan ancaman bahwa semua nilai yang ia pegang sebelumnya dan mengombang-ambingkannya dalam keraguan. Dalam lingkup dunia yang tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan martabat manusia, yang telah merampok manusia dari kehendaknya dan menjadikannya objek untuk dimusnahkan (memiliki rencana, bagaimana pun, menjadikannya berdaya guna—bagi setiap sumber daya fisiknya)— di bawah pengaruh demikian, akhirnya nilai-nilai akan hilang. Bila seseorang di kamp konsentrasi tidak berjuang melawan hal ini sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan respek diri, dia akan kehilangan perasaan sebagai individu, makhluk berpikir, dengan kebebasan hakiki dan nilai personal. Dia akan berpikir bahwa dirinya hanya merupakan bagian dari sejumlah manusia, dan eksistensinya menurun hingga ke tingkat kehidupan binatang. Manusia digiring—kadang dari satu tempat ke tempat lain, kadang bergerak bersama, kemudian terpisah—layaknya kawanan domba yang tanpa pikiran atau kehendak sendiri. Sesuatu yang kecil namun berbahaya selalu mengawasi mereka dari semua sisi, cara yang bagus dalam metode penyiksaan dan sadisme. Mereka menggiring kawanan tak henti-hentinya, ke belakang dank e depan, dengan bentakan, tendangan, dan pukulan. Dan kami, para domba, hanya tahu bagaimana mengelak dari anjing galak dan mengharapkan makanan.
Seperti kawanan domba yang berkerumun dengan takut-takut menuju pusat kerumunan, setiap kami berupaya berada di tengah. Hal itu adalah cara yang lebih baik untuk menghindari pukulan pengawas yang biasanya berada di sisi dan di depan barisan. Berada di tengah barisan juga menghindarkan seseorang dari hembusan angin. Karena itu, setiap orang berupaya menenggelamkan diri ke tengah kerumunan, dan itu berlangsung secara otomatis. Namun, di lain waktu ada upaya yang sangat sadar dari kelompok kami, dalam menyesuaikan satu aturan penting di kamp dalam upaya mempertahankan diri: Jangan menarik perhatian. Akhirnya kami menghindari tingkah yang menarik perhatian SS.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan