MAN SEARCH FOR MEANING-30

Lama sejak saya mengalami hidup normal (setelah dibebaskan dari kamp) seseorang menunjukkan ilustrasi kepada saya setiap minggunya dengan foto para tawanan yang berbaring berdesakan di ranjang, menatap hampa pada pengunjung. “Bukankan mengerikan, tatapan wajah yang menakutkan—dan segala sesuatu tentang itu?”
“Mengapa?” Tanya saya, memang belum mengerti maksudnya. Saya mengingatnya kembali, pada saat itu pukul 5.00 sore. Hari sudah mulai gelap. Saya berbaring di ranjang yang terbuat dari papan yang keras di lantai tanah pondok bersama sekitar tujuh puluh lainnya yang berada dalam ‘perawatan’. Kami sedang sakit dan tidak harus pergi meninggalkan kamp untuk bekerja. Kami juga tidak harus mengikuti parade. Kami harus berbaring sepanjang hari dan tidur-tiduran sambil menunggu dibagikannya jatah makanan (yang dikurangi untuk tawanan yang sakit) dan sup (yang lebih encer dan banyaknya juga dikurangi). Namun, bagaimanapun itu, kami tetap bahagia. Ketika kami meringkuk berdempetan untuk menjaga agar tidak terjadi kehilangan kehangatan dan terlalu malas untuk menggerakan jari tangan untuk hal yang tidak penting, kami mendengar lenkingan peluit dan teriakan dari luar ketika shift malam tiba dan pemanggilan daftar hadir akan dilakukan. Pintu terbuka, salju mengalir ke dalam pondok terasa menyengat. Komrad yang kejam masuk dan duduk selama beberapa saat. Namun, sipir senior menunggunya di luar. Ada larangan keras terhadap orang asing untuk memasuki pondok ketika pemeriksaan terhadap tawanan sedang dilakukan. Betapa kasihannya saya kepadanya dan betapa gembira bahwa saya tidak berada dalam posisinya saat itu, tetapi sedang sakit dan bisa tidur di pondok. Sangat menyelamatkan berada dua hari di sana, dan mungkin saja dua hari ekstra berikutnya.   
Gambaran itu muncul dalam benak saya ketika melihat fotograpi di majalah. Ketika saya menjelaskannya, pendengar saya dapat memahami mengapa saya tidak menganggapnya mengerikan: Sebenarnya, orang-orang itu belum tentu merasa sedih.
Hari keempat saya dalam ruang perawatan, saya seharusnya menjalani shift malam ketika dokter kepala buru-buru dating ke pondok dan meminta saya menjadi relawan untuk kamp lain bagi pasien penyakit tipus. Berlawanan dengan anjuran teman-teman saya (dan meskipun faktanya hampir tidak ada yang bersedia menjadi relawan) saya menyanggupinya. Saya tahu bahwa saya akan meninggal dalam waktu yang tidak lama lagi, namun saya akan mati paling tidak dapat memberikan kesan bagi yang lain. Saya tidak perlu meragukan bahwa saya lebih baik membantu dokter kepala dari pada saya akan mati sebagai orang tak berguna.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan