MAN SEARCH FOR MEANING-28

Ketika kami—tawanan pendatang baru— dihitung oleh pengawas, ternyata salah seorang di antara kami menghilang. Kami harus menunggu di luar di tengah dinginnya hujan sampai tawanan yang menghilang itu ditemukan. Akhirnya, ia ditemukan di pondok dalam keadaan tertidur pulas akibat kelelahan. Kemudian absen dikeluarkan untuk parade penghukuman. Sepanjang malam hingga memasuki pagi berikutnya, kami harus berdiri di luar, membeku dan direndam setelah melakukan perjalanan melelahkan. Namun, kami tetap gembira karena mengetahui tidak ada cerobong asap di sini, dan Auschwitz jaraknya jauh dari sini.
Lain waktu, kami melihat sekelompok terpidana melewati tempat kerja kami. Betapa jelas relativitas penderitaan yang kami alami. Kami cemburu melihat mereka yang lebih teratur, aman, dan bahagia. Mereka tampaknya memiliki kesempatan yang teratur untuk mandi, hal yang membuat kami sedih. Mereka secara teratur bisa menggosok gigi dan membersihkan pakaian, tidur terpisah satu dengan lainnya, dan setiap minggu petugas pos menyampaikan kabar tentang kerabat mereka apakah masih hidup atau sudah meninggal. Kami telah kehilangan suasana seperti itu dalam waktu yang cukup lama.
Dan betapa kami cemburu pada mereka yang memiliki kesempatan untuk kerja di pabrik dalam tempat terlindung. Setiap orang mendambakan hidup yang nyaman dan keberuntungan. Skala relatif keberuntungan berkembang bahkan lebih jauh. Detasemen di luar kamp (di mana saya menjadi salah satu anggotanya) mengatakan ada beberapa unit yang dianggap lebih mengerikan dibanding yang lainnya. Seseorang akan mencemburui  orang yang tidak harus mengarungi kedalaman kubangan tanah liat, bekerja pada kemiringan yang curam mengosongkan bak kereta kecil selama dua belas jam setiap hari. Kebanyakan kecelakaan terjadi pada pekerjaan ini, dan biasanya fatal.
Di bagian kerja yang lain, para pengawas memelihara tradisi lokal di mana setiap tawanan harus menerima sejumlah pukulan. Hal itu membuat kami membicarakan tentang keberuntungan relatif karena tidak berada di bawah pengawasan mereka atau kalau pun pernah hanya sebentar saja. Suatu kesempatan yang tidak menguntungkan, saya dimasukkan ke kelompok itu. Seandainya alarm serangan udara tidak menghentikan kami setelah dua jam (sepanjang waktu di mana pengawas bekerja dengan saya), menjadi penting untuk mengumpulkan kembali anggota kelompok sesudahnya, saya pikir saya sudah dikembalikan ke kamp bersama kereta yang mengangkut tawanan yang sudah meninggal dan yang sekarat. Tak seorang pun dapat membayangkan gambaran bagaimana bunyi sirene membawa situasi yang demikian, bahkan seorang petinju yang mendengar bunyi bel tanda akhir ronde yang membuatnya selamat pada detik terakhir dari pukulan berikut yang bisa membuatnya KO.  
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan