MAN SEARCH FOR MEANING-27

Kadang-kadang, ada yang menemukan impian yang menggelikan tentang masa depan, seperti meramalkan keterlibatan dalam makan malam berikutnya di mana mereka tidak sadar bahwa sup sudah disediakan dan memohon kepada pelayan agar disendokkan dari bagian bawah.
Upaya mengembangkan rasa humor dan melihat segala sesuatu dengan rasa humor adalah salah satu trik yang dilakukan ketika mendalami seni kehidupan. Melatih seni kehidupan di kamp tetap saja memungkinkan meski penderitaan hadir setiap saat. Sebagai analogi, penderitaan seseorang sama dengan gas. Bila sejumlah gas dipompakan ke ruang kosong, ia akan mengisi seluruh ruangan itu tidak persoalan seberapa besar ruangan itu. Demikian juga dengan penderitaan yang mengisi penuh jiwa manusia tidak peduli apakah penderitaan itu besar atau kecil. Ukuran penderitaan bagi manusia sangatlah relatif.
Hal itu mengikuti ungkapan bahwa hal yang sangat sederhana bisa menghasilkan suka cita yang sangat besar. Sebagai contoh adalah apa yang terjadi dalam perjalanan kami dari kamp Auschwitz ke kamp lain yang berafiliasi dengannya, yaitu kamp Dachau. Kami semua sudah merasa sangat takut jangan-jangan kami dibawa menuju kamp Mauthausen. Perasaan kami semakin mencekam ketika kereta kami akan menyeberangi sebuah jembatan di Danube yang merupakan arah ke Mathausen, menurut yang sudah mengalaminya. Sulit digambarkan suka cita yang terjadi ketika kami akhirnya tahu bahwa kami tidak menuju Mathausen melainkan ke Dachau.
Dan lagi, apa yang terjadi ketika kami Tiba di Dachau setelah melewati perjalanan panjang selama dua hari dan tiga malam? Tidak ada tempat yang cukup bagi kami untuk duduk di lantai. Sebagian besar kami harus berdiri sepanjang penjalanan sementara sedikit lainnya merebahkan diri di tumpukan jerami yang basah oleh air kencing. Ketika kami tiba, hal paling menggembirakan yang kami dengar dari tawanan yang sudah tiba sebelumnya adalah bahwa kamp Dachau tidak sebesar Auschwitz dan hanya diisi sekitar 2.500 tawanan. Tidak ada oven, tidak ada crematorium, dan tidak ada gas. Berarti, bagi tawanan yang lemah tidak perlu takut dengan kamar gas, namun harus menunggu panggilan “rombongan sakit” yang akan dipulangkan ke Auschwitz. Sukacita dadakan ini membuat kami dalam suasana hati yang baik. Harapan sipir senior di Auschwitz terhadap kami menjadi kenyataan, kami telah tiba di kamp tanpa cerobong asap—tidak seperti di Auschwitz. Kami larut dalam tawa dan canda hingga kami harus melewati beberapa jam berikutnya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan