MAN SEARCH FOR MEANING

Di lain waktu kami bekerja di sebuah parit. Fajar memancarkan cahaya abu-abu, salju dalam cahaya pucat fajar juga berarna abu-abu, pakaian compang-camping yang kami kenakan juga abu-abu, juga wajah kami. Saya masih saja berbincang dalam diam dengan istri saya, atau mungkin saya berjuang menemukan alasan untuk penderitaan saya, kematian lambat-laun saya. Dalam suatu protes keran terakhir terhadap kematian segera yang tak berpengharapan saya merasakan roh saya tertusuk melalui kegelapan terselubung. Saya merasa hal itu akan mengatasi ketiadaan harapan, dunia tak bermakna, dan dari mana saya dengar suara kemenangan, “ya” sebagai jawaban terhadap pertanyaan saya tentang eksistensi tujuan akhir. Pada momen  itu, saya melihat cahaya memancar dari kejauhan, seperti terlukis di horizon di tengah cahaya sengsara abu-abu fajar di Bavaria “Et lux in tenebris lucet”— dan cahaya bersinar dalam kegelapan. Beberapa lama saya diam terpaku, pengawas melewati saya, menghina saya, namun lagi-lagi saya berkomunikasi dengan yang saya cintai. Semakin saya rasakan ia hadir bersama saya, semakin saya rasakan saya dapat menyentuhnya, semakin saya rasakan saya dapat memeluknya. Perasaan yang sangat kuat: ia ada di sana. Kemudian pada momen itu juga, seekor burung terbang menukik dan hinggap tepat di depan saya, pada tumpukan tanah yang saya gali dari parit, dan menatapku terus-menerus.
Sebelumnya, saya menyatakan tentang seni. Adakah sesuatu hal yang cukup disebut seni di kamp konsentrasi? Hal itu tergantung pilihan seseorang untuk menganggap apa yang disebut seni. Sejenis cabaret diimprovisasi dari waktu ke waktu. Sebuah pondok dibersihkan sesekali, beberapa kursi kayu didorong atau dipaku secara bersamaan dan program yang dituliskan. Pada pagi hari ketika situasi cukup baik di kamp—para Capo dan pekerja tidak harus meningalkan kamp  untuk berjalan jauh—mereka berkumpul di sana. Mereka mencurahkan sedikit tawa dan sedikit tangis, dengan cara apapun untuk dilupakan. Ada nyanyian, puisi, candaan, dan beberapa sindiran tentang kamp. Semuanya ditujukan untuk membantu kami melupakan, dan hal itu tampaknya cukup membantu. Berkumpul cukup efektif bagi tawanan-tawanan biasa yang ingin melihat cabaret kendatipun mereka kelelahan bahkan bisa kehilangan jatah makanan karenanya.
Sepanjang interval setengah jam makan siang, ketika sup (yang dibayarkan oleh kontraktor dan tidak banyak mereka habiskan) dibagikan di tempat kerja, kami biasanya diperbolehkan berkumpul di ruangan mesin yang belum selesai. Dalam antrian, setiap orang mendapat jatah sesendok penuh sup encer. Saat kami menikmati sup dengan rakusnya, seorang tawanan memanjat bak dan menyanyikan lagu solo Italia. Kami menikmati lagunya dan ia diberikan hadiah dua kali sendokan ke dalam, yang berarti ia dapat kacang polong sebagai bonus.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan