MAN SEARCH FOR MEANING

Saya tidak tahu apakah istri saya masih hidup dan saya tidak bisa mencari tahu hal itu (selama kehidupan sebagai tawanan tidak ada surat keluar masuk), namun pada momen itu, hal itu terjadi. Ada ketidakinginan dalam diri saya untuk mengetahui, tidak ada yang bisa mengubah kekuatan cinta saya, pikiran saya, dan gambaran tentang yang saya sayangi. Andaikan saya tahu kemudian bahwa istri saya sudah tidak ada, saya pikir saya masih akan membiarkan diri saya tidak terganggu oleh hal itu, untuk membayangkan dirinya, dan percakapan mental saya dengannya masih tetap nyata dan membahagiakan,”Materaikanlah saya dalam hatimu, cinta adalah sekuat kematian.”
Pencarian kehidupan batin yang intens membantu para tawanan menemukan perlindungan dari kekosongan, kesedihan, dan kemiskinan spiritual eksistensinya, dengan membiarkan dirinya melarikan diri ke masa lalu. Ketika kendali lepas, imajinasinya aan bermain dengan peristiwa masa lalu, biasanya bukan tentang hal penting, namun kejadian biasa dan sepele. Nostalianya memuliakan mereka dan hal itu mereka anggap karakter aneh. Dunia dan eksistensi mereka tampak sangat berjarak, dan roh menjangkau kesunyian mereka: Dalam benak saya, saya menyetop bis, membiarkan pintu depan apartemen saya tak terkunci, menerima telepon, menyalakan lampu. Pikiran kami biasanya terpusat pada beberapa detail, dan memori-memori itu akan berujung pada tetesan air mata.
Karena kehidupan batin tawanan cenderung menjadi intens, mereka juga mengalami keindahan seni dan alam yang belum pernah sebelumnya. Dalam pengaruh hal itu, mereka kadang lupa dengan lingkungannya yang mengerikan. Seandainya seseorang melihat wajah kami dalam perjalanan dari Auschwitz ke kamp Bavarian saat kami memandang kemilau puncak gunung Salzburg dalam cahaya matahari senja melalui celah dari kereta, ia tidak akan percaya bahwa wajah itu, wajah yang menyerahkan harapan hidup dan kebebasan. Meskipun demikian—atau mungkin karenanya—kami masih tertarik dengan keindahan alam yang sudah lama tidak kami nikmati.
Di kamp juga, seorang tawanan mungkin menggambarkan  perhatian kamerad yang mengawasinya dengan pemandangan matahari terbenam melalui celah pepohonan di hutan Bavaria (layaknya lukisan terkenal dari Durer), pepohonan yang sama yang kami bangun, taman tersembunyi yang luar biasa. Suatu pagi ketika kami masih istirahat di lantai pondok, kelelahan yang mematikan, dengan semangkuk sup di tangan, seseorang bergegas mengajak kami segera berkumpul di halaman untuk melihat cahaya matahari terbenam yang sangat indah. Kami menyaksikan kilauan awan yang menyeramkan dan seluruh langit dan awan senantiasa berubah warna dan bentuknya, dari biru ke merah darah,  kontras dengan warna abu-abu hamparan lumpur di pondok yang memantulkan cahaya awan. Kemudian setelah beberapa saat, seseorang berkata kepada  yang lain,”Alangkah indahnya dunia.”
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan