MAN SEARCH FOR MEANING

Secara umum, terjadi juga “hibernasi budaya” di kamp dengan dua pengecualian: politik dan agama. Di kamp, politik dibicarakan di mana-mana hampir terus-menerus. Paling banyak pembicaraan didasarkan pada rumor, yang mengejutkan akan diikuti dengan penuh perhatian. Biasanya rumor tentang militer adalah kontradiksi. Mereka saling mengikuti dan berhasil membuat kontribusi dalam perang urat syaraf yang sedang berkobar dalam benak masing-masing tawanan. Kadang, harapan agar perang selesai dengan cepat yang dipanas-panasi dengan rumor optimis, ternyata berakhir dengan kekecewaan. Beberapa orang menjadi kehilangan semua harapan, optimisme yang tak bisa diperbaiki bagi pendamping yang sangat menjengkelkan.
Kepentingan relijius para tawanan, sejauh ia berkembang, adalah hal yang paling tulus yang bisa dibayangkan. Semangat mendalam keyakinan relijius biasanya mengejutkan dan mengubah pendatang baru. Hal yang paling mengesankan adalah doa seadanya dan pelayanan di sudut suatu pondok atau dalam kegelapan truk sapi yang membawa kami pulang dari kerja dengan jarak yang jauh, lelah, lapar, dan membeku dalam pakaian compang-camping.
Sepanjang musim dingin dan musim semi tahun 1945 wabah typus menginfeksi hampir semua tawanan. Kematian tampaknya lebih baik bagi yang sudah sangat lemah, yang sudah merasakan kerja keras selama yang dia bisa. Seperempat dari penderita sangat tidak layak, praktis tidak ada obat-obatan dan perawatan. Beberapa simptom wabah penyakit tidak menyenangkan secara ekstrim: kebencian tak tertahankan bahkan pada makanan sisa (dengan tambahan bahaya terhadap hidup) dan serangan menakutkan delirium. Kejadian mengerikan dialami oleh teman saya yang menganggap dirinya sudah meninggal dan ingin berdoa. Dalam igauannya, ia tidak menemukan kata-kata. Untuk menghindari serangan delirium ini, saya berusaha tetap terjaga sepanjang malam. Saya berusaha menyusun kata-kata dalam benak saya. Akhirnya, saya membangun catatan yang hilang di kamar disinfeksi di Auschwitz, dan menuliskan kata kunci yang singkat pada sepotong kertas bekas.
Sesekali, terjadi debat ilmiah di kamp. Suatu waktu saya menyaksikan hal yang belum pernah saya saksikan sebelumnya bahkan dalam kehidupan normal saya, meskipun hal itu sebenarnya dekat dengan profesi saya: pemanggilan arwah. Saya diundang untuk hadir oleh kepala dokter kamp (juga seorang tawanan), yang tahu bahwa saya seorang psikiater. Pertemuan dilakukan di ruangan khususnya yang kecil di rumah sakit. Beberapa yang hadir duduk membentuk lingkaran kecil. Di antara mereka, petugas sanitasi berjongkok.
Seseorang mulai membacakan mantra untuk mengundang roh. Seorang juru tulis duduk di depan dekat sehelai kertas kosong. Sekitar sepuluh menit berikutnya (setelah pemanggilan roh dianggap berhasil karena medium sudah menunjukkan gejala kesurupan) pensilnya bergerak menggambarkan garis-garis yang membentuk huruf V A E V. Dijelaskan sebelumnya bahwa juru tulis tidak pernah belajar Bahasa Latin dan tidak pernah mendengar kata VAE VICTIS—duka kekalahan. Menurut saya, ia pasti pernah mendengarnya sebelumnya, tanpa mengingatnya, dan pasti telah memasuki rohnya (roh dari alam bawah sadar) pada saat itu, beberapa minggu sebelum pembebasan kami dan berakhirnya perang.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan