MAN SEARCH FOR MEANING

Menghadirkan subjek secara metodik adalah hal yang sangat sulit, seperti pendekatan ilmiah yang dibutuhkan oleh para psikolog. Namun, bukankah pendekatan seseorang yang melakukan observasi ketika dirinya sendiri juga sebagai tawanan merupakan pendekatan sangat penting? Beberapa pendekatan dilakukan oleh orang luar, namun ia memiliki jarak yang terlalu jauh untuk sebuah pernyataan yang mendekati realitas di mana hanya orang dalam saja yang memahaminya. Penilaian seseorang bisa tidak objektif, dan evaluasinya bisa saja tidak proporsional. Hal itu tentu tidak menguntungkan. Pendekatan harus dilakukan untuk menghindari kecenderungan personal, dan itulah kesulitan nyata dari sebuah buku. Pada saat yang sama, sangat penting untuk memiliki keberanian mengungkap pengalaman paling personal. Awalnya, saya ingin menuliskan buku ini secara anonim hanya dengan menggunakan nomor tawanan saya. Namun, ketika manuskripnya selesai, saya segera melihat bahwa penerbitan secara anonim akan mengurangi setengah dari nilai buku ini, sehingga saya berpikir bahwa saya harus memiliki keberanian untuk menyatakan keyakinan saya secara terbuka. Saya kemudian menahan diri menghapus beberapa bagian kendati pun saya tahu banyak orang tidak menyukainya.
Saya akan meninggalkan pembahasan tentang hal lain dan menyaringnya agar isi buku ini tidak menjadi teori yang kering. Hal ini mungkin akan menjadi kontribusi penting bagi psikologi kehidupan tawanan, yang telah diteliti setelah Perang Dunia pertama dan kita kenal dengan sindrom “Barbed Wire Sickness”. Kita berterimakasih pada Perang Dunia kedua yang memperkaya pengetahuan kita tentang “psikopatologi massa” (kutipan terkenal dari frase dan judul buku LeBon), untuk apa yang diberikan oleh perang kepada kita sebagai perang urat syaraf dan kamp konsentrasi.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan