MAN SEARCH FOR MEANING

Kekurangan gizi dalam derajat yang sangat tinggi yang diderita para tawanan membuat pembicaraan tentang makanan menjadi sangat lumrah ketika bekerja. Saya amati, ketika pengawasan sedikit longgar, para tawanan akan saling bertanya dengan tawanan di dekatnya tentang makanan favorit masing-masing. Mereka membicarakan dan menggambarkannya hingga sedetail mungkin. Bahkan mereka mendiskusikan resep makanan yang akan mereka buat ketika mereka sudah bebas—suasana yang masih jauh di depan—pembicaraan itu terus berlangsung hingga tiba-tiba ada peringatan, biasanya dengan password:”Pengawas datang.”
Saya menganggap pembicaraan tentang makanan adalah berbahaya. Bukankah salah memprovokasi organ tubuh dengan pembicaraan tantang kenikmatan di saat ia beradaptasi terhadap keadaaan kekurangan kalori? Meskipun hal itu bisa menambah semangat psikologis, hal itu adalah ilusi, yang secara psikologis pasti bukan tanpa bahaya.
Sepanjang hari-hari terakhir penawanan kami, kami hanya diberikan ransum sup yang sangat encer dan sepotong kecil roti sekali setiap hari. Sebagai tambahan, ada yang disebut sebagai ekstra yang berisi tiga hingga empat ons margarine, atau sepotong sosis kualitas rendah, atau sepotong kecil keju, atau sesendok selai encer, bervariasi setiap harinya. Tentu saja asupan itu sangat jauh dari cukup kalori, khususnya bagi kami yang harus bekerja keras menguras tenaga dan terpapar cuaca buruk akibat tidak mengenakan pakaian yang layak. Yang sakityang berada dalam pengawasan khusus—diijinkan tinggal di kamp dan tidak ikut kerja—bahkan lebih buruk…..   
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan