MAN SEARCH FOR MEANING

Apatis, gangguan jiwa yang paling umum pada fase kedua, merupakan mekanisme penting untuk pertahanan diri (self-defense). Realitas tersamar, semua upaya, dan semua emosi berpusat pada satu tugas, mempertahankan diri sendiri kemudian kelompok sendiri. Sangat sering, ketika pada sore hari para tawanan digiring menuju kamp setelah selesai kerja, terdengar desahan dan ucapan,” Baiklah, hari yang lain telah berlalu.”
Dapat dipahami dengan mudah bahwa kondisi demikian yang secara konstan berlangsung pada tawanan akan menurunkan emosi mereka hingga ke tingkat paling primitive. Beberapa kolega saya di kamp yang mengerti psikoanalisis biasanya mengatakan regresi di dalam kamp sebagai perjalanan mundur menuju bentuk kehidupan mental yang primitif. Harapan dan keinginannya menjadi jelas dalam impiannya.
Apa yang lebih sering diimpikan para tawanan? Makanan, roti, rokok, dan air mandi yang hangat. Tidak terpenuhinya hal tersebut dalam realitas membuat tawanan lari ke impian untuk memenuhinya. Apakah impian itu membawa hal yang baik bagi mereka, itu adalah soal lain. Pemimpi harus bangun dan menerima kenyataan realitas kehidupan kamp yang mengerikan dan kontras dengan impiannya.
Saya tidak akan pernah lupa peristiwa pada suatu malam ketika saya terbangun mendengar lenguhan seorang tawanan yang tampaknya mengalami mimpi buruk yang mengerikan. Karena saya cukup berpengalaman dengan perjuangan orang-orang yang mengalami mimpi yang menakutkan atau deliria, saya ingin membangunkannya. Tiba-tiba saya menarik kembali tangan saya yang hendak mengguncang tubuhnya untuk membangunkannya, khawatir dengan apa yang saya lakukan. Pada momen itu saya menjadi sangat sadar pada fakta bahwa bukan mimpi, bukan masalah yang betapa mengerikan, yang menjadi seburuk realitas di kamp yang melingkupi kami, dan yang saya sebut demikian.  
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan