MAN SEARCH FOR MEANING

Saya sebelumnya tidak peduli. Tetapi saya harus menanggapi niatnya yang serius untuk menghabisi saya. Saya berdiri dan menatapnya dengan tajam. “Saya seorang dokter—seorang spesialis.”
“Apa? dokter? saya bertaruh kamu pasti dapat banyak uang dari pasienmu.” Ujarnya.
“Saya melakukan kebanyakan pekerjaan saya bukan demi uang. Saya bekerja di klinik untuk orang-orang miskin.”
Namun, sekarang, saya berbicara terlalu banyak. Ia meloncat ke arahku lalu memukulku sambil berteriak seperti orang gila.Saya tidak dapat mengingat teriakannya.
Melalui cerita ini saya hanya ingin menunjukkan bahwa kegeraman dapat bangkit meskipun pada tawanan yang tampaknya tidak berdaya. Kegeraman yang bukan disebabkan oleh rasa sakit karena hukum fisik melainkan rasa sakit akibat rasa terhina yang ditimbulkannya. Saat itu, darah sudah naik ke ubun-ubun sebab saya harus mendengar seseorang menilai hidup saya, orang yang hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang itu. Seseorang (ini harus saya akui: dalam ucapan berikut, yang saya tujukan pada kelompok kami setelah adegan itu, menimbulkan perasaan kekanak-kanakan). “Siapa yang tampak begitu vulgar dan brutal di mana perawat di bangsal rumah sakit” bahkan tidak akan menyarankannya ke ruang tunggu.
Untungnya, capo di kelompok saya berjanji kepada saya; dia menaruh perhatian kepada saya sebab saya mau mendengar curhatnya tentang kisah cinta dan persoalan pernikahannya, yang ia curahkan sepanjang perjalanan ke area kerja. Tampaknya saya mengesankan baginya dengan nasihat psikoterapi yang saya berikan padanya. Sejak itu, ia merasa berterimakasih, dan itu sangat berguna bagi saya. Dalam beberapa kesempatan, ia menyediakan tempat bagi saya di dekatnya pada lima baris pertama detasemen kami yang biasanya berjumlah dua ratus delapan puluh orang. Kebaikan itu sangat penting. Ketika subuh dalam kegelapan suasana pagi kami harus berbaris. Setiap orang takut terlambat kalau-kalau harus berdiri di barisan belakang, sebab bila ada pekerjaan yang tidak menyenangkan, capo senior biasanya akan memilih orang-orang yang berdiri di barisan belakang. Orang-orang ini harus berbaris menuju yang lainnya, khususnya untuk pekerjaan yang ditakuti dengan perintah pengawas yang kejam. Kadang, capo senior memilihnya dari lima baris pertama untuk menjerat orang yang berusaha menghindar. Semua protes dan permohonan dibungkam dengan beberapa tendangan, dan semua korban yang terpilih akan digiring ke ruang pertemuan dengan pukulan dan bentakan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan