MAN SEARCH FOR MEANING

Bagian paling menyakitkan dari siksaan yang kami alami adalah perasaan sangat terhina. Suatu saat kami menggotong balok besar yang panjang dan berat melalui jalur bersalju. Bila seseorang tergelincir, hal itu tidak saja membahayakan dirinya sendiri melainkan semua kami yang mengangkat balok itu.  
Seorang teman saya yang sudah tua dan menderita cacat bawaan di pangkal pahanya merasa senang masih mampu mengerjakannya sebab ia tahu bahwa ketidakmampuan hampir pasti akan mengirimnya menuju ajal bila seleksi dilaksanakan. Ia berjalan tertatih-tatih sepanjang jalur dengan balok yang sangat berat dan tampaknya akan jatuh dan menyeret yang lainnya juga. Tanpa pikir panjang, saya meloncat mendekatinya dan berusaha membantunya. Namun, segera seseorang memukul saya dan dengan kasar menyuruh kembali ke tempat semula. Beberapa saat sebelumnya, pengawas yang memukul saya mencela kami dengan mengatakan bahwa kami adalah babi yang tidak memiliki semangat kepahlawanan.
Di lain waktu ketika di hutan dengan suhu yang sangat dingin, kami menggali tanah yang membeku akibat suhu dingin untuk meletakkan pipa air. Akibatnya, fisik saya melemah. Lalu dating seorang pengawas dengan pipi kemerahan. Wajahnya mengingatkan saya dengan kepala seekor babi. Saya ingat, ia mengenakan sarung tangan yang bagus dalam cuaca yang cukup dingin itu. Sejenak ia mengawasiku dengan diam. Saya merasa ada sesuatu yang salah. Di depan saya berdiri tampak gundukan tanah yang menunjukkan seberapa banyak saya sudah menggali.
Kemudian ia memulai: “Kamu babi. Saya telah mengawasimu sepanjang waktu! Saya akan mengajarimu bagaimana bekerja! Tunggu hingga saya menyuruh kamu menggali kotoran dengan gigimu—Kamu akan mati seperti binatang! Dalam dua hari saya akan menghabisimu. Kamu tidak pernah mengerjakan sesuatu sepanjang hidupmu. Apa pekerjaanmu sebelumnya Babi? Pengusaha? Bentaknya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , .

Tinggalkan Balasan