MAN SEARCH FOR MEANING

Saya menghabiskan banyak waktu di pondok untuk pasien-pasien yang menderita typus dan mengalami demam tinggi serta mengigau, kebanyakan mereka sudah sekarat. Setelah salah seorang di antara mereka baru saja meninggal, saya memperhatikan tanpa sedikitpun memperlihatkan emosi yang mengikutinya. Hal ini terjadi berulang-ulang dalam setiap kematian. Satu demi satu tawanan yang tubuhnya masih hangat saya dekati. Seorang meraih makanan berisi kentang yang tersisa dan berserakan. Yang lain memutuskan mengambil sepatu dari peti mati dan menukarkannya dengan miliknya. Yang ketiga melakukan hal yang sama dengan menukarkan jaketnya.
Semuanya saya saksikan tanpa perhatian. Akhirnya saya minta perawat untuk mengeluarkan mayat itu. Ketika ia melakukannya, ia menarik kaki mayat itu, menariknya melalui koridor kecil antara dua baris tempat tidur untuk lima puluh pasien penderita  typus, menyeretnya sepanjang lantai tanah bergelombang menuju pintu. Dua langkah untuk mendorong ke udara terbuka selalu menjadi masalah bagi kami karena kami kelelahan akibat kekurangan asupan makanan. Setelah beberapa bulan berada di kamp, kami tidak dapat lagi menaiki tempat dengan tinggi hanya sekitar enam inci itu tanpa bertumpu pada pintu jamban untuk mendorong diri kami sendiri ke atas.
Laki-laki yang membawa mayat mendekati tangga. Dengan susah payah ia menyeretnya sendiri ke atas. Kemudian tubuh itu, pertama kaki, kemudian badan, dan akhirnya dengan bunyi derak yang berisik, kepala mayat itu terangkat.
Saya ditempatkan di ruang yang berseberangan dengan pondok. Kecil dan hanya memiliki satu jendela yang rendah. Ketika saya menggenggam semangkuk sop hangat yang saya minum dengan rakusnya, secara tidak sengaja saya melihat ke luar jendela. Mayat yang baru saja dikeluarkan membelalak kepada saya. Dua jam sebelumnya saya masih berbicara dengan pria itu. Sekarang saya meneguk kembali sup hangat saya.
Bila ketiadaan emosi saya tidak mengejutkan saya dari sudut pandang kepentingan professional, saya tidak akan mengingat peristiwa itu sekarang, sebab hanya ada sedikit perasaan yang melingkupinya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY.

Tinggalkan Balasan