MAN SEARCH FOR MEANING

Terlepas dari reaksi yang sudah dijelaskan, tawanan baru mengalami siksaan batin yang sangat hebat, yang ia coba redam. Pertama, ada kerinduan yang sangat mendalam pada rumah dan kepada keluarga. Perasaan tercengkeram oleh kerinduan ini berlangsung terus-menerus. Kemudian ada perasaan jijik, jijik terhadap segala hal di sekelilingnya, bahkan jika sekadar bentuk luarnya saja.
Kebanyakan tawanan diberikan seragam compang-camping yang membuat para tawanan lebih mirip orang-orangan pengusir burung. Di antara pondok-pondok di kamp terdapat kotoran. Sebagian tawanan bekerja membersihkannya dan sebagian lainnya harus menjamahnya. Para tawanan baru biasanya disuruh membersihkan jamban dan membuang kotoran. Sangat sering terjadi kotoran memercik wajah ketika mengangkatnya melalui jalan bergelombang. Ketika Capo melihat sikap jijik atau upaya untuk membersihkan kotoran dari wajah, mereka akan memberi hukuman. Dan dengan penghinaan demikian, reaksi normal segera terjadi.
Awalnya, tawanan memperhatikan ketika ada parade hukuman bagi kelompok lain. Dia tidak akan sanggup melihat sesama tawanan berbaris dan duduk selama beberapa jam di dalam lumpur, di mana setiap gerakan mereka diarahkan dengan pukulan. Selama beberapa hari atau beberapa minggu berikut segala sesuatu berubah. Pagi-pagi sekali, ketika hari masih gelap, tawanan berdiri di depan gerbang bersama anggotanya, siap untuk berbaris, ia mendengar jeritan dan menyaksikan bagaimana seorang kamerad  menjatuhkan, mendorong dengan kakinya, dan sekali lagi menjatuhkan hanya karena orang itu demam tetapi melaporkannya pada waktu yang tidak tepat. Ia dihukum gara-gara upayanya untuk menghindari tugasnya.
Namun, tawanan yang sudah melewati reaksi psikologis tahap ke dua tidak lagi menghindarkan tatapannya. Karena perasaannya sudah tumpul, ia menatap tanpa bergerak.
Contoh lain, ketika seseorang berada di ruang perawatan, berharap agar diijinkan bekerja ringan di dalam kamp akibat mengalami cedera atau bisa saja karena sakit kulit atau demam. Ia diam tak berpaling ketika seseorang membawa anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun yang sakit karena dipaksa berdiri di salju dengan kaki telanjang selama berjam-jam. Jari kakinya melepuh dan dokter yang bertugas mencabuti lukanya dengan pinset satu per satu. Jijik, horor, dan kasihan, adalah emosi yang tidak lagi kami rasakan. Penderitaan, sekarat, dan kematian menjadi hal yang sangat biasa setelah beberapa minggu berada di kamp.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan