MAN SEARCH FOR MEANING

Saya ingin menyebutkan beberapa kejutan yang sama, yang kami alami selama penderitaan di penjara. Kami tidak bisa menggosok gigi, anehnya, gusi kami malah lebih sehat dari sebelumnya. Kami harus menggunakan pakaian yang sama selama setengah tahun hingga bentuknya tidak lagi seperti pakaian. Kadang kami tidak bisa membersihkan diri bahkan sebagian saja karena pipa air yang rusak, namun bisul dan gatal-gatal di tangan yang kotor akibat bekerja di tanah tidak bernanah. Atau contoh lain, orang yang susah tidur bila diganggu oleh sedikit keributan di ruang berikut, dapat berbaring di dekat komrad yang tidurnya mendengkur dengan keras dan tetap terlelap. Bila seseorang sekarang menanyakan kepada kami tentang kebenaran pernyataan Dostoevski menyatakan dengan tegas bahwa manusia adalah makhluk yang dapat menerima apa saja, kami akan menjawab, “Ya, manusia dapat menerima apa saja, namun jangan tanya kepada kami bagaimana caranya.” Namun, investigasi psikologi kami hingga kini belum melangkah jauh, kami masih berada pada fase pertama reaksi psikologis.
Keinginan bunuh diri menghibur hampir setiap orang hanya dalam waktu yang singkat. Ia muncul dari situasi tak berpengharapan, bahaya kematian terus-menerus menghampiri kami setiap hari dan setiap jam, dan keakraban terhadap derita kematian untuk beberapa orang. Dari keyakinan personal yang akan saya nyatakan kemudian, saya berjanji pada diri saya saat malam pertama di kamp bahwa saya tidak akan “melarikan diri ke kawat” frase yang digunakan oleh tawanan untuk menyatakan cara paling umum untuk bunuh diri, menyentuh kawat yang dialiri listrik. Tidak begitu sulit bagi saya untuk membuat keputusan itu. Ada sedikit tujuan untuk untuk bertekad bunuh diri, sebab, bagi rata-rata tawanan, ekspektasi hidup, pehitungan objektif, dan perkiraan kemungkinan, sangat kecil.Dia yang tidak mengharapkan jaminan adalah mereka yang sebagian kecil lolos dari seleksi. Tawanan Auschwitz pada fase pertama keterkejutan, tidak takut terhadap kematian. Bahkan, kamar gas kehilangan horornya beberapa hari pertama berikutnya, mereka menghindarkan  dari tindak bunuh diri.
Teman-teman yang saya temui sebelumnya mengatakan kepada saya bahwa saya bukanlah satu-satunya yang mengalami keterkejutan akibat depresi berat. Saya hanya tersenyum dan berharap pada fase berikutnya berlangsung, pagi ketika pertama kali kami di Auschwitz. Meskipun aturan yang ketat tidak diberlakukan di blok kami, kolega saya yang tiba di Auschwitz beberapa minggu sebelumnya menyelinap ke pondok kami. Dia berusaha menyenangkan saya dan teman-teman dan memberikan beberapa nasihat. Dia tampak sangat kurus, saya bahkan tidak mengenalnya ketika pertama melihatnya. Dengan menunjukkan rasa humor yang baik dan perhatian lebih, ia mengatakan beber-apa tips. “Jangan takut.” “Jangan gentar dengan seleksi.” Dr. M (kepala medis SS) ramah terhadap dokter.” (Yang ini salah, kata-kata baik dari sahabat saya ini menyesatkan. Seorang dokter di suatu pondok dan seorang pria berusia enam puluh tahunan mengatakan kepada saya bagaimana mereka membujuk Dr. M agar melepaskan anaknya yang akan dikirim ke ruang gas, dengan dingin menolaknya.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged .

Tinggalkan Balasan