LOGOTERAPI-9

Dengan demikian, tergantung pada pasien, apakah ia menginterpretasikan tugas hidupnya menjadi tanggung jawab terhadap masyarakat atau terhadap kesadaran dirinya sendiri. Kadang, ada manusia yang tidak menginterpretasikan hidupnya sekadar bentuk tugas yang dibebankan kepada mereka, tetapi juga dalam bentuk pemberi tugas yang membebankan itu kepadanya.
Logoterapi tidak pernah mengajari maupun mengkotbahi. Hal itu dibuang jauh dari alasan logis yang dimiliki nasehat moral. Untuk membuatnya lebih jelas, aturan yang dimainkan oleh logoterapis adalah seperti seorang spesialis mata dari pada seorang pelukis. Seorang pelukis berusaha menyampaikan kepada kita sebuah gambar dunia sebagaimana yang ia lihat, sedangkan seorang spesialis mata akan berupaya membuat kita bisa melihat dunia sebagaimana adanya. Aturan logoterapis berisi pelebaran dan perluasan bidang gambar sehingga seluruh spektrum makna potensial jadi disadari dan tersingkap.
Dengan menyatakan bahwa manusia bertanggung jawab dan harus mengaktualisasikan makna hidupnya, saya berharap dapat menekankan bahwa makna sejati hidup manusia dapat ditemukan di dunia dari pada dalam orang lain atau jiwanya sendiri, seolah-olah hal itu adalah system tertutup. Saya menyebut karakter konstitutif ini sebagai “transendensi diri eksistensi manusia”. Hal itu menandakan fakta bahwa keberadaan manusia selalu menunjukkan, dan diarahkan, kepada sesuatu, atau seseorang, selain diri sendiri—menjadi makna yang harus dipenuhi atau ditemukan oleh orang lain. Semakin seseorang melupakan dirinya sendiri —untuk melayani dan mencintai orang lain—semakin manusiawilah dia dan semakin ia mengaktualisasikan dirinya sendiri. Apa yang disebut sebagai aktualisasi diri bukanlah suatu tujuan yang dapat dicapai begitu saja, untuk alasan sederhana bahwa semakin seseorang berusaha keras untuk itu, semakin ia akan kehilangannya. Dengan kata lain, aktualisasi diri mungkin hanyalah efek samping dari transendensi diri.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan