LOGOTERAPI-5

Bagi saya sendiri, ketika saya diambil dan dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz, sebuah manuskrip yang saya tulis dan sudah siap diterbitkan mereka rampas. Tentunya, hasrat terdalam  untuk menulis manuskrip itu sekali lagi membantu saya untuk tetap bertahan dalam keketatan kamp. Sebagai contoh, ketika saya di kamp Bavaria, saya menderita sakit akibat wabah typus. Saya mencatat pada sobekan kertas kecil yang bertujuan untuk memampukan saya menulis ulang manuskrip, seakan-akan saya hidup di masa kebebasan. Saya meyakini bahwa upaya rekonstruksi manuskrip saya yang hilang yang saya lakukan di kegelapan barak di Bavaria membantu saya untuk mengatasi bahaya serangan jantung.
Dengan demikian dapat dilihat bahwa kesehatan mental didasarkan pada adanya tegangan dengan tingkat tertentu, tegangan antara apa yang sudah dicapai oleh seseorang dengan apa yang masih ingin diraihnya, atau jurang antara bagaimana seseorang pada saat sekarang dan menjadi apa selanjutnya.
Tegangan tertentu melekat pada keberadaan manusia dan sangat diperlukan bagi kesehatan mental. Oleh sebab itu, kita tidak perlu bimbang untuk kemudian memberi tantangan kepada seseorang  makna potensial yang akan dicapainya. Hal itu hanya berarti bahwa kita telah membangkitkan gairahnya terhadap makna dari keadaan diam. Saya menganggap, adalah kesalahpahaman yang berbahaya bagi kesehatan mental bila mengasumsikan bahwa seseorang membutuhkan keadaan awal yang setimbang, atau yang dalam biologi disebut ‘homeostatis’, keadaan tanpa tegangan. Apa yang sesungguhnya dibutuhkan manusia bukanlah keadaan tanpa tegangan melainkan upaya keras dan perjuangan bagi keseluruhan tujuan, suatu tugas pilihan bebas. Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah menghilangkan tegangan melainkan memanggil makna potensial yang menunggunya untuk dipenuhi. Apa yang dibutuhkan manusia bukanlah ‘homeostatis’ melainkan apa yang saya sebut sebagai ‘noo-dinamic’, yakni dinamika eksistensial dalam ruang polar yang pada satu kutub diwakili oleh makna yang harus dicapai dan kutub lainnya diwakili oleh makna yang sudah dicapainya. Dan tidak perlu berpikir bahwa hal itu hanya benar dalam kondisi normal, dalam neurosis individual hal itu bahkan lebih valid. Ketika arsitek ingin menguatkan lengkungan, ia menambahkan beban pada bagian di mana ia terletak sehingga bagian-bagian tersambung menjadi lebih erat. Sebab itu, bila seorang terapis berharap dapat menguatkan kondisi mental pasien, ia tidak perlu takut menciptakan tegangan melalui suatu reorientasi menuju makna hidup seseorang.
Setelah menunjukkan pengaruh menguntungkan dari orientasi makna, saya kembali pada pengaruh merugikan perasaan itu yang begitu banyak dikeluhkan pasien sekarang, yaitu perasaan ketidakbermaknaan secara total dan mutlak dalam hidup mereka. Mereka kekurangan kesadaran tentang makna yang sesuai dengan hidup mereka. Mereka dihantui oleh pengalaman kekosongan batin, kekosongan dalam diri mereka. Mereka terperangkap dalam situasi yang saya sebut ‘existential-vacoom’.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , .

Tinggalkan Balasan