LOGOTERAPI-4

Tidak semua konflik berarti neurosis. Beberapa konflik adalah normal dan menyehatkan.Dalam arti yang sama, penderitaan tidak selalu menjadi fenomena patologis. Alih-alih menjadi simptom neurosis, penderitaan dapat menjadi pencapaian yang baik, khususnya bila penderitaan menumbuhkan frustrasi eksistensial.
Saya dengan tegas menolak bahwa pencarian seseorang terhadap makna dalam eksistensinya, atau bahkan keraguannya terhadap hal itu, dalam setiap kasus berasal dari penyakit atau menghasilkan penyakit.Frustrasi eksistensial dalam dirinya sendiri bukanlah patologis maupun patogenik.  Perhatian seseorang, bahkan rasa putus asanya di sepanjang hidup yang berharga adalah kesulitan eksistensial, namun bukan berarti sebagai penyakit mental. Akan lebih baik bila interpretasi kondisi awal menjadi motivasi terakhir seorang dokter menguburkan kekecewaan eksistensial pasiennya di bawah tumpukan obat penenang. Itu adalah tugasnya, dan bukan mengarahkan pasien melewati pertumbuhan dan perkembangan krisis eksistensialnya.
Logoterapi berkaitan dengan tugas membantu pasien untuk mencari makna dalam hidupnya. Sejauh logoterapi membuat ia sadar akan makna tersembunyi dalam eksistensinya, hal itu adalah proses analitik. Dalam hal ini, logoterapi menyerupai psikoanalisa. Bagaimanapun, upaya logoterapi membuat sadar bukanlah membatasi aktivitas pada fakta instingtual dalam bawah sadar individual namun juga memperhatikan realitas eksistensial sebagai makna potensial eksistensinya yang akan dipenuhi sebagai kehendaknya terhadap makna. Beberapa analisis, kadang, bahkan ketika ia menahan diri untuk memasuki dimensi noologi dalam proses terapinya, membuat pasien sadar apa yang sebenarnya ia rindukan dalam kedalaman keberadaannya. Logoterapi menyimpang dari psikoanalisa sejauh hal itu mempertimbangkan manusia sebagai makhluk yang perhatian utamanya adalah memenuhi makna, bukan sekadar kegembiraan dan kepuasan dorongan dan insting, atau sekadar mendamaikan konflik id, ego, dan super ego, atau sekadar adaptasi dan penyesuaian terhadap masyarakat dan lingkungan.

Noo-Dinamic

Tentu, pencarian manusia terhadap makna dapat memunculkan tegangan batin alih-alih keseimbangan batin. Bagaimanapun, tegangan dalam porsi yang tepat sangat dibutuhkan sebagai prasyarat bagi kesehatan mental. Saya katakana, bahwa tidak sesuatu pun di dunia ini yang dapat membantu seseorang untuk tetap bertahan bahkan dalam situasi yang paling buruk pun selain pengetahuan bahwa ada makna dalam hidup seseorang. Dalam ungkapan Nietzsche terkandung kebajikan, “ Siapa yang memiliki ‘mengapa’ terhadap hidup, ia akan mampu menanggung hampir semua ‘bagaimana.” Saya melihat bahwa kata-kata ini adalah motto yang mengandung kebenaran dalam semua psikoterapi. Di Kamp Konsentrasi Nazi, setiap orang bisa menyaksikan bahwa siapa yang menyadari bahwa ia memiliki tugas yang harus ditunaikan di luar sana adalah yang paling mampu bertahan. Kesimpulan yang sama telah dicapai oleh penulis buku lain tentang kamp konsentrasi, dan juga penelitian psikiater terhadap kamp tawanan perang di Jepang, Korea Utara, dan Vietnam Utara.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , , , , .

Tinggalkan Balasan