LOGOTERAPI-34

Logoterapi bahkan dapat bersesuaian dengan pelatiihan yang ditetapkan oleh aliran psikoterapi berlisensi lainnya. Dengan kata lain, seseorang dapat menyalak dengan serigala, jika dibutuhkan. Namun, ketika seseorang melakukan hal itu, saya katakan, bahwa harus diingat bahwa ia harus menjadi  serigala berbulu domba. Tidak ada kebutuhan untuk menjadi tidak benar dalam konsep dasar tentang manusia dan prinsip filsafat kehidupan yang inheren dalam logoterapi. Loyalitas demikian tidak sulit dilakukan seperti yang pernah disebutkan oleh Elisabeth S. Lukas, “ Sepanjang sejarah psikoterapi, tidak ada aliran yang setidakdogmatisnya logoterapi.” Pada kongres pertama logoterapi (San Diego, California, 6-8 November 1980) saya berpendapat bahwa bukan hanya rehumanisasi logoterapi, namun juga untuk apa yang saya sebut sebagai “degurufikasi logoterapi”. Tujuan saya bukan untuk memunculkan burung beo yang hanya bisa melafalkan ucapan tuannya, melainkan menyalakan lampu bagi “jiwa yang independen dan inventif, inovatif dan kreatif.”
Sigmund Freud pernah menegaskan, “Biarkan seseorang membongkar  sejumlah dari beragam  keseragaman manusia dengan rasa lapar. Dengan meningkatnya dorongan imperatif rasa lapar, semua perbedaan individual akan tersembunyi. Sigmund Freud luput dari pengetahuan tentang Kamp Konsentrasi. Subjeknya didasarkan pada pelatihan yang didesain pada suasana kemewahan budaya Victorian, bukan di dunia yang kotor seperti Auschwitz. Di sana, perbedaan individual tidak tersamar, sebaliknya, perbedaannya semakin jelas; manusia menelanjangi dirinya sendiri, antara iblis dan santo, dan kini Anda tidak perlu ragu lagi menggunakan kata “santo”:pikirkanlah Bapa Maximilian Kolbe yang kelaparan dan akhirnya dibunuh dengan gas asam karbolik di Auschwitz dan akhirnya pada tahun 1983 dikanonisasi.
Anda mungkin cenderung menyalahkan saya karena menyerukan contoh yang merupakan pengecualian.”Sed omnia praeclaratam difficilia quam rara sunt” (Namun segala sesuatu yang agung, sulit diwujudkan sesulit ditemukan) adalah kalimat terakhir dalam buku “Ethics” karya Spinoza. Anda mungkin bertanya apakah kita harus merujuk pada “Santo”. Bukankah cukup hanya merujuk pada orang-orang yang layak? Benar bahwa mereka berasal dari minoritas. Lebih dari itu, mereka akan tetap sebagai minoritas. Namun, saya lihat bahwa sangat menantang untuk bergabung menjadi minoritas. Ketika dunia dalam situasi buruk, semuanya akan menjadi semakin buruk kecuali bila kita melakukan yang terbaik dari kita. Sehingga, mari kita siaga, siaga dalam dua hal:
Dari Auschwitz kita tahu bagaimana kemampuan seorang manusia.
Dari Hiroshima kita tahu apa yang dipertaruhkan.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan