LOGOTERAPI-33

Dalam memandang kemungkinan menemukan makna dalam penderitaan, makna hidup adalah sesuatu yang tanpa syarat, paling tidak secara potensial. Makna yang tanpa syarat itu, bagaimanapun, sejajar dengan nilai tanpa syarat bagi setiap orang. Inilah yang menjamin kualitas tak terhapuskan dari martabat manusia. Layaknya hidup yang menyimpan makna yang potensial dalam beberapa kondisi, bahkan jika hal itu melalui kesengsaraan, demikian juga nilai setiap orang tetap tinggal padanya, dan selalu demikian, sebab hal itu didasarkan pada nilai yang ia percayai di masa lalu, dan hal itu tidak bersyarat pada pemanfaatannya di masa sekarang.
Lebih khusus, kemanfaatan ini didefinisikan dalam terminology fungsional keuntungan bagi masyarakat. Namun, masyarakat sekarang dicirikan dengan orientasi pada prestasi, sehingga konsekuensinya adalah masyarakat memuja orang yang sukses dan bahagia, dan lebih khusus memuja yang muda. Masyarakat praktis mengabaikan nilai selain itu, dan itu mengaburkan perbedaan yang paling menentukan antara bernilai dalam hal martabat dan bernilai dalam hal kegunaan. Bila seseorang tidak menyadari perbedaan ini, dan menganggap bahwa nilai individual hanya berdasarkan kegunaan sekarang, maka, percayalah bahwa seseorang menggunakannya hanya karena inkonsistensi personal, bukan untuk membela euthanasia seperti dalam program Hitler, yaitu, pembuhan bagi semua yang sudah kehilangan kegunaan sosial, yang disebabkan oleh usia lanjut, penyakit tak tersembuhkan, kerusakan mental, atau cacat apa saja yang membuat mereka tidak bermanfaat.
Kebingungan tentang martabat manusia dengan sekadar kegunaan muncul dari konsep yang keliru yang dapat dilacak pada nihilisme kontemporer yang diajarkan oleh kaum akademik dan pelatih analis, bahkan perancangan analisis pelatihan juga memberi kontribusi. Nihilisme tidak beranggapan bahwa tidak ada sesuatu, melainkan menyatakan bahwa segala sesuatu tidak memiliki makna. George A. Sargent benar ketika ia mengemukakan “pembelajaran tanpa makna.” Ia sendiri mengingat seorang terapis yang berkata, “George, kamu mesti percaya bahwa dunia adalah lelucon. Tidak ada keadilan, semuanya adalah kebetulan. Hanya ketika Anda mempercayai ini, Anda akan menyadari betapa konyolnya Anda membuat Anda serius. Tidak ada tujuan besar jagad raya. Hanya itu saja. Tidak ada makna dalam keputusan tentang apa yang Anda lakukan hari ini.
Seseorang tidak mesti mengeneralisasi setiap kritisisme.  Pada prinsipnya terapi mutlak diperlukan, namun demikian, terapis harus melihat tugas mereka untuk memampukan peserta latihan menolak nihilism, dari pada menanamkan mereka dengan sinisme bahwa ada mekanisme pertahanan melawan nihilisme mereka sendiri.
Posted in PHILOSOPHY TODAY and tagged , .

Tinggalkan Balasan